Hasil Kajian DLH Kulon Progo Sebut Sungai Serang Alami Pencemaran Tingkat Tinggi

Kepala DLH Kulon Progo, Duana Heru Supriyanta, menjelaskan pihaknya mengkaji kualitas air di 9 sungai yang ada di wilayah Kulon Progo.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Alexander Aprita
TERCEMAR - Penampakan Sungai Serang yang mengalir melewati Kapanewon Wates, Kulon Progo, Kamis (29/01/2026). Sungai Serang disebut mengalami pencemaran cukup tinggi. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo telah mempublikasikan hasil kajian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 2025.

Kajian dilakukan terhadap sembilan sungai yang mengalir di wilayah Kulon Progo.

Kepala DLH Kulon Progo, Duana Heru Supriyanta, menjelaskan pihaknya mengkaji kualitas air di 9 sungai tersebut.

Termasuk kondisi udara dan tutupan lahan.

"Salah satu yang kami soroti adalah kondisi Sungai Serang karena temuan pencemarannya cukup tinggi," kata Duana pada wartawan, Kamis (29/01/2026).

Tingginya cemaran didapatkan dari sampel yang diambil dari 10 lokasi secara acak.

Namun hasil kajian menunjukkan sampel dari 10 lokasi tersebut menunjukkan zat cemaran yang serupa.

Baca juga: DPUPKP Kulon Progo Sebut Pernah Usulkan Perbaikan Jalan di Dumpoh Samigaluh, Namun Dicoret

Tiga Cemaran

Menurut Duana, ada tiga pencemaran yang ditemukan di perairan Sungai Serang.

Cemaran pertama berupa zat fosfat dengan kondisi melebih ambang batas 0,20 miligram (ml) per liter.

Cemaran kedua berasal dari bakteri fecal dengan kadar menembus angka puluhan ribu MPN (Most Probable Number) per 100 mililiter (ml). Adapun batas wajarnya hanya di angka 1.000 MPN per 100 ml.

"Cemaran ketiga datang dari bahan organik yang masif dan sulit terurai, ditemukan di bagian hilir sungai," ujar Duana.

Ia menilai cemaran fosfat diduga datang dari penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian yang berlebihan.

Cemarannya bisa terlarut ke perairan, yang jika kadarnya tinggi bisa meracuni ekosistem perairan.

Sedangkan cemaran bakteri fecal kemungkinan karena kontaminasi tinja manusia dan hewan, termasuk pembuangan limbah peternakan di sungai.

Meski begitu, Duana menilai temuan cemaran tersebut masih wajar.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved