Human Interest Story
Kisah Kun Hariana, dari Herbal Banting Stir Hadirkan Harum Kopi Nusantara di Sudut Pasar Beringharjo
Proses roasting dilakukan secara mandiri di kediamannya di Bantul sebelum dipajang di kiosnya, di lantai dasar Pasar Beringharjo sisi timur.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wangi semerbak biji kopi yang baru saja digiling menyeruak di antara keriuhan lantai dasar sisi timur Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta.
Kepulan aroma itu bersumber dari Kios Hasanah, tempat puluhan jenis biji kopi terbaik dari seantero nusantara berjejer rapi dalam stoples-stoples kaca.
Di balik etalase, Kun Hariana (50) tampak cekatan melayani pelanggan, tangannya lincah menimbang biji kopi, lalu memasukkannya ke dalam mesin grinder.
Suara deru mesin penggiling seolah menjadi musik latar yang menandakan geliat ekonomi di salah satu pasar rakyat terbesar di Kota Pelajar itu.
"Kalau di sini, saya sudah jualan sekitar 20 tahun, sejak 2005. Tapi, dulu awalnya kita main di herbal. Baru pas pandemi Covid-19, kita putuskan geser ke kopi," ujar Kun, Selasa (27/1/2026).
Alasan Kuat
Pria asal Jawa Barat yang kini menetap di Kasihan, Bantul itu mengisahkan, keputusannya beralih ke bisnis kopi dilatarbelakangi alasan yang cukup kuat.
Semua berawal dari hobi menjelajahi kedai-kedai kopi di Yogyakarta, yang lantas membawanya melihat peluang di tengah pasar yang heterogen.
Benar saja, kini Kios Hasanah menjadi salah satu jujukan utama bagi warga lokal maupun pelancong yang ingin membawa pulang buah tangan biji kopi nusantara.
Tak tanggung-tanggung, Kun menyediakan sekitar 25 varian origin kopi dari berbagai penjuru tanah air, termasuk kopi lokal kebanggaan DIY seperti Merapi dan Menoreh.
"Pengunjung Beringharjo itu heterogen. Kalau wisatawan biasanya nyari kopi Merapi atau Menoreh buat oleh-oleh. Tapi, banyak juga yang cari kopi dari daerah lain," jelasnya.
Baca juga: Kisah Dea Angelia Kamil, Raih Gelar Doktor dari UGM di Usia 26 Tahun dan Lakukan Riset di Korsel
Diolah dengan Tangan Sendiri
Urusan kualitas, Kun tidak pernah main-main, di mana setiap biji kopi mentah atau green bean yang didapat, selalu diolah dengan tangannya sendiri.
Proses roasting dilakukan secara mandiri di kediamannya di Bantul sebelum dipajang di kiosnya, di lantai dasar Pasar Beringharjo sisi timur.
Dalam sehari, ia meroasting hingga lima batch atau setara 20 kilogram kopi untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti.
Geliat Kios Hasanah kian kencang saat akhir pekan atau musim libur panjang, dengan tren penjualan yang bisa melonjak 30 - 50 persen dibanding hari biasa.
Menariknya, pembelinya kini tak hanya dari kalangan rumah tangga atau wisatawan, namun juga pemilik kafe yang mulai "kulakan" biji kopi di tempatnya.
| Kisah Azizah, Bocah 6,5 Tahun di Kota Yogyakarta Cari Rongsok hingga Rawat Ayah Sakit |
|
|---|
| Kisah Mbah Kibar, Seniman Asli Bantul yang Berjuang Tebus Tanah Leluhur Lewat Goresan Kanvas |
|
|---|
| Kisah Santri Yaketunis Yogyakarta Menjemput Cahaya Alquran Lewat Titik-titik Braille |
|
|---|
| Cerita Santri Darul Ashom di Godean Sleman, Mengejar Cita-cita Jadi Pengajar Agama bagi Tunarungu |
|
|---|
| Kisah Aji Ramadan, Driver Ojol yang Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM |
|
|---|