Kabupaten Bantul Catatkan Angka Tertinggi Kasus Leptospirosis di DIY Sepanjang 2025
Dari total 453 kasus yang dilaporkan Dinkes DIY, lebih dari separuhnya terjadi di wilayah Bantul, dengan belasan korban meninggal dunia.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Bantul mencatatkan angka tertinggi kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang 2025.
- Laporan Dinkes DIY, di Bantul tercatat 227 kasus leptospirosis dengan 12 kematian
- Tingginya kasus leptospirosis di DIY, khususnya di Bantul, tidak lepas dari faktor lingkungan.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kabupaten Bantul mencatatkan angka tertinggi kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang 2025.
Dari total 453 kasus yang dilaporkan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, lebih dari separuh terjadi di wilayah ini, dengan belasan korban meninggal dunia.
Data Dinkes DIY menunjukkan, Bantul mencatat 227 kasus leptospirosis dengan 12 kematian.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lain di DIY.
Setelah Bantul, kasus leptospirosis terbanyak tercatat di Sleman dengan 118 kasus dan 11 kematian.
Disusul Kulon Progo sebanyak 49 kasus dengan enam kematian, Kota Yogyakarta 32 kasus dengan delapan kematian, serta Gunungkidul dengan 27 kasus dan satu kematian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, menjelaskan bahwa tingginya kasus leptospirosis di DIY, khususnya di Bantul, tidak lepas dari faktor lingkungan.
Penyebaran penyakit ini banyak terjadi di wilayah persawahan, tempat bakteri Leptospira dari urine tikus dapat terbawa aliran air.
“Kalau di Kota Yogya memang sampai ke permukiman. Karena sawahnya lebih sedikit, maka penularannya bisa terkait higiene dan sanitasi lingkungan, termasuk pengelolaan sampah,” ujar Ari beberapa waktu lalu.
Baca juga: Dinkes Bantul Catat 237 Kasus Leptospirosis selama 2025, Meninggal Dunia 13 Orang
Tingkat Keparahan Beragam
Ia menjelaskan, leptospirosis memiliki tingkat keparahan yang beragam.
Pada kondisi ringan, penyakit ini masih dapat ditangani dengan antibiotik.
Namun, jika terlambat mendapatkan penanganan dan sudah berkembang menjadi kondisi berat, risiko kematian meningkat.
“Leptospirosis ringan biasanya cukup dengan antibiotik. Tetapi kalau sudah berat dan terlambat ditangani, risikonya kematian,” kata Ari.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan leptospirosis adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal penyakit ini.
| Optimalkan Pengolahan Sampah, TPST Modalan Bakal Tambah 7 Alat Baru dan Modifikasi Mesin |
|
|---|
| Modus Tanya Alamat, Orang Tak Dikenal Tipu dan Gasak Uang Rp4,5 Juta Milik Nenek di Bantul |
|
|---|
| Gelombang Pasang Terjang Pantai Depok Bantul, Sejumlah Bangunan Semi Permanen Rusak |
|
|---|
| Harga Minyak Goreng Premium Naik, DKUKMPP Bantul: Imbas Harga Plastik Nasional |
|
|---|
| Antisipasi Kebakaran saat Musim Kemarau, BPBD Bantul Imbau Warga Tak Bakar Sampah Sembarangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kematian-Akibat-Serangan-Virus-Tikus-di-Klaten-Tembus-18-Kasus-Leptospirosis.jpg)