Dinkes Bantul Catat 237 Kasus Leptospirosis selama 2025, Meninggal Dunia 13 Orang
Dinkes Bantul menyatakan selama tahun 2025 ada 237 kasus dan 13 di antaranya meninggal dunia. Namun, beberapa juga karena komorbid
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Berkaca dari kasus leptospirosis di Bantul pada 2025 yang mencapai 237 kasus dan 13 di antaranya meninggal dunia, Dinkes Bantul mengeluarkan surat edaran untuk meningkatkan layanan dan penanganan
- Fasilitas pelayanan kesehatan disiapkan mulai dari Puskesmas, klinik, dan praktik mandiri hingga rumah sakit serta edukasi bagi masyarakat
- Semua elemen masyarakat diminta mengeliminasi tempat-tempat kotor yang berpotensi menjadi tempat hidup tikus
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat sebaran kasus leptospirosis cukup meningkat pada tahun 2025. Sebagai upaya penanggulangan kasus tersebut, pihaknya mengeluarkan edaran ke sejumlah instansi mulai dari layanan kesehatan, kalurahan, hingga sekolah.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, berujar, selama tahun 2025 ada 237 kasus dan 13 di antaranya meninggal dunia. Namun, dari jumlah meninggal dunia itu ada yang juga terkena komorbid, sehingga tidak mutlak karena paparan bakteri Leptospira.
Kasus leptospirosis tersebar di 17 kapanewon
"Sebaran kasus itu sebenarnya tidak mengelompok. Dalam artian, kasus itu tersebar di beberapa wilayah bahkan di 17 kapanewon ada semua. Tapi, tahun 2025, kasus tertinggi ada di Kapanewon Bantul disusul Kapanewon Sewon dan Kapanewon Kasihan," ucapnya, kepada Tribunjogja.com, Kamis (8/1/2026).
Dikatakannya, faktor risiko leptospirosis sebenarnya berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan didukung oleh populasi tempat perindukan tikus yang meningkat. Pasalnya, kebanyakan kasus tersebut didapatkan dari hewan pengerat berupa tikus sawah, tikus rumah, tikus atap, hingga tikus got.
Lanjutnya, kasus leptospirosis dapat meningkat dari adanya perindukan hewan pengerat dikarenakan ada sumber-sumber makanan yang berpotensi menjadi sarang tikus bukan dari adanya curah hujan yang tinggi.
Hanya saja, ketika masyarakat langsung berhubungan dengan bakteri Leptospira dari urine tikus, maka dapat terkena leptospirosis.
Surat edaran
"Sebagai upaya penekanan, barusan kami mengeluarkan surat untuk fasilitas pelayanan kesehatan berupa rumah sakit, Puskesmas, klinik, dan praktik mandiri. Kemudian, untuk masyarakat juga, para pengampu kebijakan di masing-masing berupa pemerintah kalurahan terkait kasus leptospirosis itu," jelasnya.
Kata Samsu, setiap Puskesmas di Bumi Projotamansari telah diminta untuk lebih jeli dalam menemukan kasus atau pasien dengan gejala yang mengarah pada leptospirosis. Apabila menemukan gejala kasus leptospirosis terhadap pasien, pihak layanan kesehatan diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan lebih mendalam.
"Kami juga menyiapkan rumah sakit rujukan yang mampu menangani leptospirosis. Karena, kalau masyarakat kurang peduli, penanganan kasus leptospirosis itu kan bisa menjadi terlambat. Jadi, kami siapkan rumah sakit rujukan yang mampu melakukan penanganan terhadap pasien," ujar Samsu.
Bersihkan sampah tempat tikus
Selanjutnya, tiap-tiap dinas terkait termasuk pemerintah kalurahan di Bantul telah diminta untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait dengan menghilangkan tempat-tempat perindukan tikus berupa gudang dan lain sebagainya. Bahkan, sampah yang menggenang dan berpotensi menyumbat saluran air atau tempat gorong-gorong juga disarankan oleh pihaknya agar dilakukan pembersihan.
"Kalau ada sampah yang nyangkut di saluran air, artinya ada sumber-sumber makanan yang nyangkut juga kan. Nah, itu bisa menjadi tempat perindukan tikus. Jadi, masyarakat perlu rutin melakukan kerja bakti membersihkan gorong-gorong maupun pekarangan rumah juga," tutur dia.
Dikarenakan hal tersebut langsung bersinggungan dengan lingkungan dan masyarakat, maka pihaknya melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMKal), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bantul untuk bersama-sama mencegah kasus leptospirosis.
"Untuk Disdikpora, kami libatkan agar mengingatkan sekolah-sekolah di Bantul untuk menjaga lingkungan. Keberadaan kantin di sekolah juga harus dijaga kebersihannya agar tidak menjadi tempat perindukan tikus," ucap Samsu.
Kendati demikian, sejauh ini sebaran kasus leptospirosis banyak terjadi pada orang dewasa dan bukan pada anak sekolah. Akan tetapi, dikarenakan masing-masing sekolah terdapat lingkungan yang potensial atau berisiko menjadi tempat perindukan tikus, sehingga perlu dibersihkan.
"Sebenarnya tidak hanya sekolah. Di kantor-kantor dan lingkungan rumah pun tetap kami imbau agar dilakukan pembersihan secara rutin. Karena hewan pengerat yang membawa bakteri Leptospira kan memungkinkan ada di situ," pungkas dia.(nei)
| Dugaan Penyalahgunaan Anggaran di BUMKal Jatimulyo, Pemkab Bantul: Beberapa Oknum Kembalikan Uang |
|
|---|
| Pemkab Bantul Tanggapi Kasus Lurah Seloharjo yang Digugat Mantan Dukuh Pelaku Kasus Pencurian |
|
|---|
| Lurah Seloharjo Bantul Digugat Usai Pecat Dukuh yang Mencuri Gamelan |
|
|---|
| Harga Plastik Melonjak, Pedagang di Bantul Mulai Kenakan Biaya Tambahan ke Pembeli |
|
|---|
| Andi Bayou Museum di Bantul, dari Ruang Ingatan ke Wacana City of Museum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sebanyak-76-kasus-leptospirosis-terjadi-di-klaten-pada-2025.jpg)