Naraséna Co-Living Resmi Diluncurkan : Transformasi Hotel jadi Ruang Tumbuh, Belajar, dan Kolaborasi
LPP Hotel & MICE Group menandai fase baru melalui rebranding Naraséna & Mantravana Co-Living
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah lanskap perhotelan DI Yogyakarta yang kian kompetitif, LPP Hotel & MICE Group menandai fase baru melalui rebranding Naraséna & Mantravana Co-Living yang dirangkai dengan serah terima Sertifikat Hotel Bintang 3 dan Sertifikat Hotel Berbasis Risiko, Jumat (9/1/2026).
Seremoni yang digelar di Naraséna Co-Living, Demangan Baru, Caturtunggal, Sleman ini menjadi penanda berlanjutnya perjalanan LPP Convention Hotel ke identitas baru yaknk Naraséna Co-Living dengan semangat Learning, Living Harmony & Growth.
Sertifikasi diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Produk, Proses, dan Jasa Usaha Pariwisata PT Putri Kedaton Group.
General Manager Cluster Naraséna Co-Living Rifai R Saputro menyampaikan bahwa momen tersebut bukan sekadar peresmian merek, melainkan refleksi perjalanan panjang bisnis perhotelan LPP.
Ia mengingatkan bahwa LPP memulai usaha dari wisma dengan berbagai keterbatasan.
“Kami memulai dari Wisma, dengan segala macam keterbatasan fasilitas, keterbatasan sistem, dan juga keterbatasan ekspektasi pasar. Namun, kami belajar dalam proses itu, berjuang untuk tetap survive dalam bisnis hotel ini,” ujar Rifai.
Tantangan kian berat ketika pandemi melanda pada 2020. Menurut Rifai, saat itu operasional hotel hampir berhenti total.
“Okupansi jatuh, operasional kami dikunci, dan keputusan-keputusan sulit harus diambil secara cepat. Di saat yang sama, proses revitalisasi yang kami rencanakan tidak selalu berjalan mulus, terutama di LPP Hotel,” katanya.
Meski demikian, LPP Hotel & MICE Group memilih untuk terus berjalan.
Rifai menegaskan komitmen manajemen untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
Ia juga menyinggung kondisi Yogyakarta yang mengalami kelebihan pasokan hotel sehingga kompetisi semakin tidak mudah.
Dalam konteks tersebut, Rifai mengutip pemikiran Philip Kotler.
“Organisasi yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling mampu beradaptasi dan konsisten pada nilainya. Dan nilai itulah yang kami pegang di Yogyakarta selama 3 tahun terakhir,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir, performa hotel mulai menunjukkan perbaikan.
Sistem diperkuat, tim bertumbuh, dan kepercayaan pasar meningkat.
| Evaluasi Wisata DIY, Praktik 'Nuthuk' Harga dan Pemaksaan Belanja Masih Membayangi |
|
|---|
| Demi Keseimbangan Pertumbuhan Pariwisata dan Kualitas Hidup Warga Jogja, Ini Saran Sosiolog UGM |
|
|---|
| Kunjungan 9 Juta Wisatawan Selama Nataru Tegaskan Daya Saing DIY, Pariwisata Jadi Penopang Ekonomi |
|
|---|
| Hunian Hotel di DIY Capai 80 Persen, Kunjungan Wisatawan Mulai Tersebar |
|
|---|
| Empat Penghargaan WIA 2025 Tegaskan Daya Saing Pariwisata DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Narasena-Co-Living.jpg)