Sanitasi Buruk dan Dampak Perubahan Iklim Perluas Sebaran Leptospirosis di DIY
Temuan kasus leptospirosis di DIY telah mencapai 453 kasus dengan total 38 korban meninggal dunia.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ancaman leptospirosis tidak lagi hanya menghantui wilayah pedesaan dan persawahan, tetapi mulai merambah ke jantung pemukiman padat di Kota Yogyakarta.
Buruknya sanitasi lingkungan, timbunan sampah, serta genangan air pasca-hujan akibat perubahan iklim menjadi pemicu utama meningkatnya populasi tikus sebagai vektor penyakit.
Kondisi ini memperlebar spektrum risiko penularan dari lingkungan pertanian menuju kawasan hunian warga kota.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, selama kurun waktu Januari hingga November 2025, temuan kasus leptospirosis di DIY telah mencapai 453 kasus dengan total 38 korban meninggal dunia.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi yakni 227 kasus dengan 12 kematian, mengingat tingginya aktivitas di sektor pertanian yang menjadi salah satu titik utama penularan bakteri leptospira.
Bersifat Endemis
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, mengungkapkan bahwa saat ini leptospirosis telah bersifat endemis di lima kabupaten dan kota di DIY.
Di wilayah kabupaten, penularan didominasi oleh aliran air kencing tikus di area persawahan yang bersentuhan langsung dengan petani yang tidak menggunakan pelindung diri.
"Leptospirosis kita endemis di lima kabupaten/kota. Di empat kabupaten/kota dominannya di persawahan. Karena air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira itu dia melewati aliran air, salah satunya sampai persawahan. Kalau ada luka terbuka di kaki, tidak pakai alas kaki, jarang pakai boot, petani berisiko terinfeksi leptospirosis. Kasusnya itu masih terus ada, tiap minggu selalu dilaporkan dan masih ada kasus kematian," papar Ari di Yogyakarta, Rabu (7/1/2026).
Baca juga: Kasus DBD di Klaten Turun Drastis, Leptospirosis Jadi PR Baru
Sementara itu, di wilayah perkotaan, pola penularan mengalami pergeseran ke area hunian yang dipicu oleh faktor kebersihan lingkungan dan perubahan cuaca.
Ari menjelaskan bahwa tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biaknya tikus secara masif, ditambah dengan risiko banjir kecil atau genangan sisa hujan yang mempermudah penyebaran bakteri ke lingkungan rumah tangga.
"Kalau di Kota Yogyakarta memang sampai ke pemukiman, jadi terkait sanitasi lingkungan, persampahan, karena tikus juga produser di situ. Untuk perubahan iklim, banjir walaupun kecil, sisa-sisa genangan, itu bisa berpengaruh. Genangan air pasca hujan juga bisa meningkatkan resiko," tambahnya.
Kondisi ini membuat spektrum penyakit menjadi sangat luas, mulai dari gejala ringan hingga kondisi fatal yang mengancam nyawa.
Kendala Deteksi Dini
Kesulitan utama dalam penanganan leptospirosis terletak pada deteksi dini, karena gejala awalnya sering kali tidak spesifik dan mudah disalahartikan sebagai penyakit lain seperti demam berdarah.
"Karena leptospirosis itu kan penyakit demam, sementara demam itu diagnosisnya bisa macam-macam, bisa demam berdarah, bisa leptospirosis, bisa penyakit lain. Leptospirosis itu bisa ringan, bisa berat. Kalau ringan dengan antibiotik bisa sembuh, tapi kalau berat dan terlambat mengakses, risikonya kematian ada," jelas Ari.
Sejak 2025, Pemda DIY sebenarnya telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur untuk meningkatkan kewaspadaan lintas sektor, namun pengendalian populasi tikus dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk segera ke rumah sakit tetap menjadi tantangan besar.
"Kalau hewan ternak seperti antraks lebih mudah ditangani, tapi tikus itu surveinya bisa dilakukan, tapi pengendaliannya yang tidak mudah. Itu PR kita. Apalagi masyarakat kadang kalau belum berat belum ke rumah sakit," imbuhnya. (*)
| Ada Warga Sempat Suspek, Dinkes Sleman Perketat Kewaspadaan Hantavirus |
|
|---|
| Sudah Beroperasi, 72 SPPG di Sleman Terungkap Tanpa SLHS: Masalah Perizinan hingga Kelayakan Dapur |
|
|---|
| Mayoritas Dapur MBG di Sleman Belum Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi |
|
|---|
| Dinkes Kulon Progo Catat 7 Kematian Akibat Leptospirosis hingga Mei 2026, Masyarakat Diimbau Waspada |
|
|---|
| Antisipasi Penularan Leptospirosis dan Hantavirus, Pemda DIY Perkuat Koordinasi dan Edukasi PHBS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-leptospirosis.jpg)