Pustral UGM Survei Kepuasan Transportasi Umum Ops Nataru, Perlu Perbaikan

Tim Survei Pustral UGM mengatakan secara keseluruhan hasil survei kepuasaan masyarakat terhadap layanan transportasi cukup baik.

Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
HASIL SURVEI: Para narasumber saat memaparkan data survei kepuasan publik terhadap layanan transportasi umum Nataru 2025, Selasa (6/1/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Tim peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM merilis Survei Kepuasan Masyarakat terhadap Penyelenggaraan dan Pelayanan Transportasi pada Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. 
  • Berdasarkan hasil survei, rata-rata biaya transportasi per perjalanan mencapai 9,18 persen dari pendapatan responden, sedangkan biaya nontransportasi sebesar 8,77 persen.
  • Pustral UGM juga memprediksi dampak ekonomi selama periode Nataru mencapai Rp 40,29 triliun. 
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tim peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) melihat masih adanya celah perbaikan terkait armada, perubahan rute, serta optimalisasi program mudik gratis dan diskon dalam setiap pelaksanaan Operasi Lilin kepolisian dan pemerintah.

Data itu disampaikan saat pemaparan hasil Survei Kepuasan Masyarakat terhadap Penyelenggaraan dan Pelayanan Transportasi pada Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Rilis survei tersebut disampaikan pada Selasa (6/1/2026) di Sekolah Pascasarjana UGM.

Hasil survei

Ketua Tim Survei Pustral UGM, Prof Dr Zudhy Irawan, mengatakan secara keseluruhan hasil survei kepuasaan masyarakat terhadap layanan transportasi cukup baik.

"Mayoritas responden memberikan respons positif, sekitar 90,9 persen. Artinya masyarakat puas mendapatkan layanan saat momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026," ujarnya.

Survei dilakukan selama tujuh hari, mulai 24 hingga 30 Desember 2025, bertepatan dengan pelaksanaan kebijakan pemerintah terkait angkutan Nataru. 

Sebanyak 9.999 responden terlibat, terdiri dari pengguna kendaraan umum dan kendaraan pribadi dengan moda transportasi, seperti laut, kereta api, bus, pesawat, mobil dan sepeda motor.

"Kami berusaha mendekati sedekat mungkin dengan populasi masyarakat yang benar-benar melakukan perjalanan saat Nataru. Dari enam moda tersebut, seluruh indeksnya berada pada kategori puas," tandas Zudhy.

Pengambilan data untuk pengguna angkutan umum dilakukan di terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, serta simpul pengumpan. 

Survei ini mencakup wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua, termasuk daerah yang terdampak kebijakan pembatasan maupun cuaca ekstrem.

Berdasarkan hasil survei, rata-rata biaya transportasi per perjalanan mencapai 9,18 persen dari pendapatan responden, sedangkan biaya nontransportasi sebesar 8,77 persen.

“Jika dihitung pulang-pergi, total pengeluaran perjalanan mencapai 18,36 persen dari pendapatan," jelasnya.

Dampak ekonomi

Pustral UGM juga memprediksi dampak ekonomi selama periode Nataru mencapai Rp 40,29 triliun. 

Angka tersebut terdiri dari Rp 20,32 triliun untuk sektor transportasi dan Rp 19,98 triliun untuk sektor nontransportasi.

Dari enam moda transportasi yang disurvei, angkutan umum darat serta angkutan sungai, danau dan penyeberangan menjadi yang paling memuaskan. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved