Puncak Haul ke-198 Sultan HB II Dimeriahkan Wayang dan Ketoprak

Puncak rangkaian peringatan Haul ke-198 Sultan Hamengku Buwono II dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit dan ketoprak

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
GBPH Prabukusumo saat memberikan sambutan peringatan HAUL Sultan Hamengku Buwono II yang ke 198 beberapa waktu yang lalu 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Puncak rangkaian peringatan Haul ke-198 Sultan Hamengku Buwono II dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit dan ketoprak yang digelar di Kota Yogyakarta.

Acara ini menjadi penutup rangkaian haul sekaligus sarana pelestarian seni budaya Jawa.

Pagelaran wayang kulit menampilkan lakon Babad Alas Wonomarto yang dibawakan oleh dalang cilik berdarah dalem, Ki Jiddah, keturunan Sultan Hamengku Buwono II.

Ki Jiddah merupakan Juara I Lomba Dalang se-Kabupaten Ngawi. Usai wayang kulit, acara dilanjutkan dengan pementasan ketoprak oleh para seniman Ketoprak Yogyakarta.

Acara diawali dengan sambutan GBPH Prabukusumo, putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Raja Siak Kalimantan Barat, perwakilan Wali Kota Yogyakarta, serta unsur Muspika Kemantren Mergangsan.

Dalam sambutannya, GBPH Prabukusumo menegaskan bahwa Sultan Hamengku Buwono II layak diajukan sebagai Pahlawan Nasional.

Hal itu karena perjuangan beliau yang konsisten menentang penjajahan, mulai dari VOC, Prancis, Belanda, hingga Inggris.

Sikap anti-penjajahan tersebut membuat Sultan HB II harus naik takhta hingga tiga kali, serta rela dibuang ke Ambon dan dipenjara di Penang, Malaysia.

Ketua II Pesederekan Trah Hamengku Buwono II, Indro Susilo, bersama Sekretaris Trah A Heru Sumaryo menyampaikan, pagelaran wayang kulit dan ketoprak dipilih sebagai puncak haul agar trah Sultan HB II dan masyarakat Yogyakarta semakin mencintai seni tradisi.

Selain itu, cerita sejarah yang disampaikan melalui pertunjukan dinilai lebih mudah dipahami dan diteladani oleh generasi muda.

Menurut mereka, langkah ini sejalan dengan jejak Sultan Hamengku Buwono II yang dahulu juga menggunakan media wayang untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah.

Salah satunya melalui lakon Jayapusaka, dengan tokoh utama Bima yang merepresentasikan karakter HB II yang jujur, keras, dan tegas. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved