PHRI Bantul Sebut Okupansi Hotel Saat Libur Nataru 2025/2026 Tak Setinggi Tahun Lalu

PHRI Bantul mencatat bahwa okupansi hotel momen libur panjang Nataru kali ini berbeda cukup signifikan dari tahun sebelumnya.

Istimewa
ilustrasi Hotel 

Ringkasan Berita:
  • Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di Bantul mengalami peningkatan pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini.
  • Meski demikian, PHRI Bantul menyebut kenaikan okupansi hotel tahun ini masih lebih rendah dibanding kenaikan di periode yang sama tahun lalu
  • Anjloknya keterisian kamar hotel momen libur panjang tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan beberapa hal. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi hotel di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengalami kenaikan pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini.

Meski demikian, kenaikan itu masih berbeda signifikan dibandingkan momen yang sama pada tahun sebelumnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul, Yohanes Hendra Dwi Utomo, berujar rata-rata okupansi hotel saat ini sekitar 65-70 persen.

Okupansi hotel itu meningkat sejak 24 Desember 2025, dibanding sebelumnya yang berada di bawah 60 persen.

"Tapi, dari 30-31 Desember 2025 sampai 1 Januari 2026, rata-rata di angka 70-an persen untuk okupansi hotelnya," katanya kepada Tribunjogja.com, Selasa (30/12/2025).

Kendati demikian, pihaknya mencatat bahwa okupansi hotel momen libur panjang Nataru kali ini berbeda cukup signifikan dari tahun sebelumnya.

Bahkan, selama event Natal sampai pergantian tahun baru sebelumnya, tingkat keterisian kamar hotel di Bantul penuh.

"Dibandingkan tahun lalu cukup signifikan ya. Sangat jauh. Untuk tahun lalu saja, untuk event Nataru sampai 31 Desember, kamar sudah sold out semua. Tapi, sekarang malah masih banyak kamar yang belum terisi. Sangat jauh perbandingannya," papar dia.

Baca juga: Mengintip Cemilan Tradisional Adrem Buatan Mbak Tini di Bantul

Hendra memperkirakan, anjloknya keterisian kamar hotel momen libur panjang tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan beberapa hal.

Salah satunya, terkait Inpres, sehingga berdampak pada keterpurukan ekonomi.

Dikatakannya, kehadiran Inpres Nomor 1 Tahun 2025 berfokus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Inpres tersebut juga dinilai berdampak pada harga bahan makanan di pasar yang meningkat, dikarenakan kebutuhan banyak dan ketersediaan barang yang sedikit.

"Otomatis hukum ekonomi kan akan ada kenaikan harga. Seperti itu. Ini menjadi salah satu isu yang ada. Lalu, ditambah dengan adanya beberapa bencana alam di Indonesia, yang mengakibatkan, membuat wisatawan itu untuk berpikir dan menunda kegiatan liburan bersama keluarga," paparnya.

Kendati demikian, pihaknya berharap kepada pemerintah saat mengambil kebijakan baru jangan sampai membuat polemik terhadap kebijakan yang sudah ada.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved