Arus ke Jembatan Kleringan Dibatasi, Hasto Minta Pengurangan Volume Kendaraan Dimulai dari Hulu

Wali Kota Yogyakarta menegaskan langkah ini dipusatkan pada pengetatan arus masuk ke Jembatan Kleringan melalui pembatasan kendaraan besa

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Hanif Suryo
REKAYASA LALIN: Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memberikan keterangan kepada wartawan terkait rekayasa lalu lintas di kawasan Jembatan Kewek dan Kleringan, Selasa (9/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Rekayasa lalu lintas mulai diterapkan di kawasan Jembatan Kewek dan Kleringan Kota Yogyakarta untuk mengurai kepadatan arus dari berbagai simpul terutama untuk menuju Malioboro.
  • Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan pengurangan volume dimulai dari hulu di ringroad sebelum kendaraan masuk ke Jogja.

 

TRIBUNJOGJA.COM- Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menerapkan rekayasa lalu lintas di kawasan Jembatan Kewek dan Kleringan untuk mengurai kepadatan arus dari berbagai simpul. 

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa langkah ini dipusatkan pada pengetatan arus masuk ke Jembatan Kleringan melalui pembatasan kendaraan besar serta pengaturan lampu lalu lintas di titik rawan.

Hasto menjelaskan bahwa pemasangan traffic light di dua sisi Jembatan Kleringan—akses dari Mangkubumi di sebelah barat dan dari Kotabaru di sebelah timur—dilakukan untuk mengendalikan laju kendaraan yang selama ini menumpuk. 

“Di Jembatan Kleringan yang di sebelah utaranya (Kewek) itu, pas pertigaan kita pasang lampu, sehingga kendaraan yang dari arah barat, yang dari Mangkubumi, kemudian kendaraan yang dari arah timur, yang dari Kotabaru memang harus menunggu lampu itu,” jelas Hasto saat ditemui di kompleks Kepatihan, Selasa (9/12).

Menurut dia, titik kepadatan paling sering terjadi dari arah timur Kleringan atau jalur Kridosono. Selain pengaturan ulang di titik tersebut, Pemkot juga berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah DIY untuk mengurangi akses kendaraan berdimensi besar memasuki Kota Yogyakarta

“Maka yang lewat Kotabaru dan lewat Kridosono kita kurangi volumenya. Nanti dari pemerintah provinsi akan mengalihkan sebagian bis dari Ring Road timur, itu masuk (terus) ke Ring Road,” papar Hasto.

Ia menambahkan, pengalihan arus tersebut dilakukan untuk memastikan beban kendaraan yang masuk ke pusat kota tidak lagi berkumpul di Jembatan Kleringan

“Kemudian kalau mau ke Jogja lewat Jalan Magelang ya (terus) Jalan Magelang, kemudian nanti sampai ke Pingit ya, masuk ke Jogja. Jadi kita kurangi kepadatan yang masuk di sini, tetapi nguranginya ada di hulu ya, di pertigaan Ring Road di Jalan Solo ya,” ujarnya.

Cek lapangan

Di sisi teknis, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta bersama Satlantas Polresta Yogyakarta, Polda DIY, serta Dishub DIY telah melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan rekayasa lalu lintas dapat diberlakukan secara optimal. Persiapan dilakukan pada Selasa (9/12/2025) dengan menyisir seluruh akses jalan yang akan mengalami perubahan arus.

Kepala Dishub Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, mengatakan bahwa seluruh sarana pendukung mulai dari water barrier, rambu pengalihan arus, hingga portal pembatas tinggi kendaraan telah dipasang. Portal setinggi 3,45 meter ditempatkan di pertigaan Kridosono, tepat di sebelah barat Kolam Renang Umbang Tirta. Pembatas ini diberlakukan untuk memastikan bus besar dan kendaraan bertonase berat tidak lagi melintasi Jembatan Kewek yang kondisinya semakin kritis.

Dalam skenario baru, terdapat sejumlah perubahan arus bagi kendaraan dari berbagai arah. Kendaraan dari Stasiun Yogyakarta yang akan menuju Malioboro diwajibkan memutar terlebih dahulu melalui sisi timur Stadion Kridosono. 

Sementara kendaraan dari Jalan Mataram yang biasanya menggunakan lajur kanan menuju Jalan Kleringan, mulai besok akan dialihkan seluruhnya ke lajur kiri. Pengaturan APILL juga diaktifkan untuk mengatur ritme arus yang baru.

“Termasuk kendaraan dari arah Kridosono yang akan menuju Malioboro nanti diarahkan melalui lajur timur. Jadi semua kami susun agar tidak terjadi penumpukan,” ujar Agus. 

Ia menegaskan, secara garis besar tidak ada perubahan ekstrem dalam pola mobilitas kawasan tersebut, tetapi tahapan rekayasa tetap diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan mencegah kerusakan lebih parah pada Jembatan Kewek.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved