Pesan Sri Sultan HB X ke Wali Kota Yogyakarta Soal Malioboro Full Pedestrian

Setelah dilaksanakan uji coba Malioboro full pedestrian Sri Sultan Hamengku Buwono X turut memberikan pandangan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
BAHAS PEDESTRIAN MALIOBORO - Gubernur Sri Sultan HB X dan Wali Kota Hasto Wardoyo, selepas pertemuan tiga jam yang berlangsung di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (4/12/25). Sultan meminta Pemkot Yogyakarta tidak terburu-buru memaksakan penerapan konsep Malioboro pedestrian penuh. 

Selain itu, opsi lain yang mulai dipertimbangkan adalah memperbolehkan kendaraan untuk menyeberangi Jalan Malioboro di titik-titik tertentu, tanpa harus putar balik.

"Alternatif lainnya boleh cross, jadi nyeberang boleh. Itu kan alternatif lain. Tidak usah putar balik, tapi kalau ada yang perempatan, bisa menyeberang, begitu," pungkasnya. 

Penurunan omzet toko

Di samping masalah parkir liar, Hasto juga menyoroti fenomena dari sisi perekonomian para pelaku usaha, khususnya toko-toko di Malioboro

Hasil pemantauan dan laporan menunjukkan adanya penurunan omzet, meskipun jumlah orang yang datang justru bertambah.

"Jumlah orangnya banyak, tapi blonjone berkurang pada saat full pedestrian. Apa karena gara-gara enggak bawa kendaraan, terus belanjanya sedikit? Nah, itu yang kita pelajari," katanya.

Namun, Wali Kota pun mengapresiasi sejumlah gebrakan yang dilakukan para pemilik toko supaya komoditasnya menarik antusiasme pelancong.

Salah satunya, dengan menggulirkan program promo berwujud doorprize atau hadiah, untuk pembeli dengan nominal belanja tertentu.

"Jadi, kalau beli, mungkin kalau beli apa begitu, dapat hadiah. Nah, (fenomena) ini mau saya evaluasi. Besok pagi ya, nanti besok pagi saya evaluasi lagi," pungkasnya. 

Macet bukan berarti gagal

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan kemacetan pada hari-hari awal penerapan skema baru tersebut memang tidak dapat dihindari. 

Menurut dia, perubahan mendadak dari pola pedestrian terbatas ke pedestrian 24 jam memicu penyesuaian besar di lapangan.

“Pedestrian biasanya pukul 17.00–22.00, tiba-tiba 24 jam. Pasti terjadi sesuatu, kemacetan dan sebagainya,” ujarnya, Selasa (2/12/2025).

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut terjadi bukan hanya karena masyarakat belum siap, tetapi juga karena sosialisasi dari pemerintah belum dilakukan secara maksimal.

“Kurang siap dari masyarakat maupun dari kita yang memberi informasi. Harusnya dari sebulan sebelumnya sudah woro-woro, yang boleh melintas apa saja, lalu dibuat rekayasa. Ketika ditutup, arus lalu lintas seperti apa,” katanya.

Meski demikian, Made menilai kemacetan dua hari ini tidak bisa dijadikan indikator bahwa skema pedestrian penuh akan gagal. 

Menurut dia, evaluasi perlu dilakukan dalam jangka lebih panjang agar penataan dapat berjalan beriringan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved