Ron-Ron Dog Care Merespons Siklus Anjing Terlantar di Jogja

Hal ini membuat Victor merasa prihatin karena pemeliharaan hewan dijadikan sekadar hobi sesaat,

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja (MG|Axel Sabina Rachel Rambing)
Victor (50) bersama puluhan ekor anjing di shelter Ron-Ron Dog Care (RRDC), Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. 
Ringkasan Berita:
  • Ron Ron Dog Care (RRDC), didirikan oleh Victor (50) di Sleman sejak 2019, saat ini menampung sekitar 200 ekor anjing. 
  • Victor mengamati siklus penelantaran anjing di Yogyakarta dari anak kos pasca-wisuda dan penitipan "barang bukti" kasus kriminal.
  • Banyak hewan peliharaan jadi korban tren gaya hidup sesaat, sebab memelihara hewan tidak lagi menjadi komitmen jangka panjang bagi pemilik yang mudah bosan.

TRIBUNJOGJA.COM -- Di sisi utara Daerah Istimewa Yogyakarta, tersembunyi sebuah tempat yang menjadi harapan bagi ratusan anjing terlantar. Ron Ron Dog Care (RRDC) sebutan untuk shelter anjing tersebut.

Pendirinya adalah Victor (50), ia bukan seorang dog lover fanatik sejak awal. Ia bahkan mengaku baru memelihara anjing pada tahun 2016. 

Namun, keputusan yang tadinya hanya untuk mengadopsi satu atau dua ekor anjing yang membutuhkan, secara tak terduga telah mengubah hidupnya dan ratusan nyawa anjing lainnya. 

RRDC kini menjadi rumah bagi sekitar 200 ekor anjing, sebuah dedikasi yang lahir dari keprihatinan mendalam terhadap masalah hewan peliharaan di kawasan Yogyakarta, sejak 2019.

Keresahan terbesar yang mendorong Victor mendirikan shelter ini adalah siklus anjing terlantar yang tiada henti, terutama yang khas terjadi di Yogyakarta sebagai kota pendidikan.

Setiap kali musim wisuda tiba, Victor menyebutnya sebagai ‘musim banjir’ anjing dan kucing. 

Banyak anak kos yang datang dari luar kota memutuskan memelihara anjing atau kucing untuk menemani mereka. 

“Sayangnya, mereka hanya berpikir jangka pendek ‘Nanti kalau lulus, saya bawa pulang,’ Kenyataannya, setelah lulus, mereka umumnya langsung bekerja, pindah ke kota lain dan ujung-ujungnya peliharaannya di kemanain? kasih ke shelter,” jelas Victor, Senin, (01/12/2025).

Pilihan termudah adalah meninggalkan hewan peliharaan tersebut. Hal ini membuat Victor merasa prihatin karena pemeliharaan hewan dijadikan sekadar hobi sesaat, bukan komitmen seumur hidup.

Selain itu, RRDC sering menjadi tempat penitipan barang bukti kasus kriminal, terutama yang melibatkan perdagangan atau penyiksaan anjing. 

Victor menjelaskan kesulitan yang dihadapi aparat kepolisian, "Polisi mungkin enggak punya kandang, enggak punya tempat, enggak punya orang yang bisa pelihara, terutama jika jumlahnya (anjing) banyak," 

Akibatnya, anjing-anjing yang disita, yang terkadang berjumlah puluhan ekor dan dalam kondisi memprihatinkan, dititipkan ke shelter seperti RRDC hingga proses pengadilan selesai.

Anjing-anjing ini seringkali memerlukan perawatan intensif dan memakan waktu berbulan-bulan.

“Semua anjing disini, di vaksin, disteril dan dilatih agar tidak galak,” tutur Victor, Senin, (01/12/2025).

Ia berharap, ratusan anjing terutama yang memiliki riwayat trauma bisa pulih secara fisik dan mental.

Victor juga mengharapkan agar masyarakat melihat anjing dari shelter sebagai hewan yang sehat, terlatih, dan layak dipelihara, bukan sebagai hewan buangan.

Berlokasi di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, RRDC terbuka bagi siapapun yang ingin berkunjung, baik untuk adopsi secara gratis maupun sekadar bermain dengan anjing-anjing di sana.


Peliharaan Jadi Simbol Status

Dalam beberapa tahun terakhir, Victor melihat adanya peningkatan budaya pamer dan tren hewan eksotis yang juga menyumbang pada masalah penelantaran.

Ia menyoroti bagaimana maraknya pameran hewan dan influencer yang memamerkan anjing-anjing ras mahal. 

Orang-orang berlomba untuk tampil beda, memelihara anjing yang harganya fantastis bahkan hingga ratusan juta rupiah sebagai simbol status. 

Namun, seiring berjalannya waktu, tren berubah atau pemiliknya bosan. "Suatu ketika mereka bosan, (hewannya) berakhir ke mana? Shelter," ujar Victor, Senin, (01/12/2025).

Ia bahkan memiliki anjing yang harga belinya mencapai ratusan juta rupiah yang ditinggalkan pemiliknya di shelter.

Tak hanya anjing, tren memelihara hewan eksotis seperti iguana, ular, hingga buaya (yang pernah ia rescue dari anak kos) juga berujung pada nasib yang sama. 

Begitu sudah tidak lagi menarik atau merepotkan, hewan-hewan ini dilepas atau diserahkan tanpa kejelasan.

Fenomena ini dengan jelas menunjukkan adanya pergeseran nilai.  Memelihara hewan telah bergeser dari komitmen jangka panjang menjadi sekadar gaya hidup sesaat. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing).

Baca juga: 67 Anjing Selundupan Dirawat di Shelter RRDC Sleman, Polres Kulon Progo Masih Lakukan Penyelidikan

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved