Alment Coffee: Dari Lantai Dua Balai Kalurahan, Warga Jagalan Belajar Berdaya

Alment Coffee bukan sekadar kedai kopi, namun juga menjadi simbol perubahan di Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul,

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/IST
BERBINCANG HANGAT - Para narasumber berbincang dalam podcast “Ngopi Sambil Berdaya”, Kamis (23/10). Kedai Alment Coffee lahir dari Dana Keistimewaan, menghadirkan ruang baru bagi warga Jagalan untuk belajar dan berdaya.  

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keistimewaan Yogyakarta tampak dalam hal-hal kecil yang menghidupkan warganya. Di lantai dua Balai Kalurahan Jagalan, ruang yang dulu sepi kini menjadi tempat perjumpaan hangat. 

Alment Coffee lahir di sana, menggandeng semangat lokal untuk menumbuhkan daya bersama.

Alment Coffee bukan sekadar kedai kopi, namun juga menjadi simbol perubahan di Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul, wilayah kecil yang berhasil menafsirkan ulang Dana Keistimewaan (Danais) menjadi ruang ekonomi dan sosial yang produktif. 

Di tempat itulah, setiap sore, aroma kopi berpadu dengan tawa anak muda yang baru belajar meracik espresso.

“Awalnya, kami berpikir bagaimana agar dana ini tidak hanya habis untuk kegiatan seremonial, tetapi bisa menjadi wadah yang berkelanjutan,” tutur Ressa Rahalita Meitasari, pengelola Alment Coffee.

" Dari situ muncul ide membuka kedai kopi di lantai dua gedung kalurahan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Kami ingin tempat ini menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi warga.”ucapnya.

Ressa mengisahkan, Alment Coffee resmi dibuka pada Oktober 2025 dengan konsep sederhana namun berjiwa sosial.

Ia mengelola kedai bersama tiga barista muda, seluruhnya warga Jagalan yang sebelumnya mengikuti pelatihan dasar barista. 

“Kami ingin anak-anak muda punya keterampilan dan pengalaman kerja di sini. Jadi, Alment Coffee bukan cuma soal kopi, tapi juga pembelajaran dan pemberdayaan,” ujarnya.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Usulkan Pengembangan Embung Giwangan dengan Danais, Butuh Anggaran Rp2 Miliar

Kedai itu buka setiap hari pukul 15.00–23.00 WIB, menawarkan sejumlah menu khas seperti Jagalan Bliss dan Pandan Jawa bagi penikmat minuman non-kopi.

Semua peralatan barista, mulai dari espresso machine hingga cup sealer, merupakan hasil dukungan Dana Keistimewaan.

Menurut Ressa, sistem pengelolaan dilakukan secara transparan dengan skema bagi hasil.

“Dari laba bersih, 40 persen untuk pemerintah kalurahan dan 60 persen untuk pengelola. Skema ini mencakup biaya operasional dan pengembangan usaha, dan akan diatur melalui peraturan lurah,” katanya.

Berdampak nyata

Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, menilai inisiatif Kalurahan Jagalan ini sebagai contoh konkret pemanfaatan Danais yang kreatif dan berdampak nyata.  

“Dalam kasus Jagalan, dana keistimewaan digunakan untuk membangun ruang yang sebelumnya tidak termanfaatkan, lalu diubah menjadi kedai kopi yang membuka peluang kerja bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan Danais tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik.

“Harapannya, aset kalurahan seperti ini tidak hanya menjadi bangunan mati, tetapi mampu hidup bersama masyarakat. Alment Coffee membuktikan bahwa dana keistimewaan bisa menjadi pemantik kreativitas dan kemandirian,” kata Aris.

Selain itu, Aris melihat potensi pengembangan kopi lokal di DIY sangat besar.

“Kita punya kopi khas seperti Kopi Merapi, Kopi Menoreh, hingga kopi Liberika yang unik rasanya. Ke depan, semoga Alment Coffee ikut memperkenalkan kekayaan kopi lokal Yogyakarta kepada publik,” ujarnya.

Senada dengan itu, Penggerak Swadaya Masyarakat DPMKKPS DIY, Arum Widayatsih, menilai pendirian Alment Coffee sebagai langkah pemberdayaan yang tepat di wilayah urban.

 “Jagalan ini unik karena kecil dan padat, dengan akses fasilitas yang mudah. Jadi, pilihan untuk mengembangkan sektor jasa seperti kedai kopi sangat relevan,” tuturnya.

Lurah Kalurahan Jagalan, Kaharuddin Noor, mengungkapkan ide mendirikan kedai kopi muncul dari keterbatasan lahan.

Dari keterbatasan itu, pihaknya mencari bentuk pemberdayaan lain yang relevan. 

“Kami melihat tren kopi sedang berkembang dan lokasi kami strategis di tepi jalan. Maka kami berpikir, kenapa tidak mendirikan kedai kopi saja? Selain bisa memberdayakan warga, hasilnya juga bisa kembali untuk kalurahan,” kata Kaharuddin. (han/ord)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved