Kisah Inspiratif

"Teman Bisik" Hadirkan Euforia Baru bagi Difabel Netra di Stadion Maguwoharjo

Komunitas Sadar Belajar mengajak teman-teman difabel agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari. 

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Arsip Komunitas Sadar Belajar
Relawan Teman Bisik sedang menjelaskan kondisi lapangan kepada teman netra memakai tactical board saat pertandingan PSS Sleman melawan Kendal Tornado FC, Minggu, 12 Oktober 2025 (Sumber: Arsip Komunitas Sadar Belajar) 

Komunitas Sadar Belajar mendorong Difabel Aktif di Keseharian

Sadar Belajar Indonesia lahir dari sebuah harapan besar yaitu  menciptakan pendidikan yang inklusif dan merata bagi semua. 

Apa yang dimulai sebagai program kecil selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2020, kini telah berkembang menjadi gerakan kolektif yang membawa perubahan nyata.

Mereka teguh meyakini bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki potensi luar biasa. 

Oleh karena itu, tugas utama komunitas adalah menciptakan ruang aman agar potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Komunitas ini memiliki fokus unik yaitu mengajak teman-teman difabel agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari. 

Mereka secara sengaja membawa anak-anak difabel untuk bersentuhan langsung dengan berbagai aktivitas harian yang lazim dilakukan oleh banyak orang.

“Kita pernah ajak anak-anak netra untuk orientasi mobilitas atau jalan-jalan gitu yaa.. di Malioboro, kemudian pernah juga ke supermarket untuk praktik belanja, kemudian selanjutnya akan ada jalan-jalan naik KRL ke Mangkunegaran Solo” Jelas Rizal kepada Tribun Jogja (13/10/2025).

Tujuannya ganda, pertama, agar anak-anak difabel dapat lebih mengenal dan beradaptasi dengan dunia luar. 

Lalu yang kedua dan tidak kalah penting, agar masyarakat umum juga dapat mengenal dan memahami mereka.

Menurut Rizal, sang founder, sering kali interaksi masyarakat dengan difabel terhambat oleh rasa takut atau canggung. 

Rizal Founder Sadar Belajar
Rizal (27) Founder Komunitas Sadar Belajar dan penggagas gerakan Teman Bisik untuk para difabel saat menonton sepak bola di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY.

Ia berpendapat, alasan ketakutan ini mungkin karena sebagian besar orang tidak memiliki pengalaman berinteraksi, bertemu, atau sekadar berbincang dengan difabel sejak kecil.

Oleh karena itu, upaya Komunitas Sadar Belajar untuk melibatkan teman-teman difabel dalam keramaian adalah sebuah gebrakan penting. 

Ini merupakan cara nyata untuk meruntuhkan tembok pembatas, memecah kesalahpahaman, dan secara perlahan menciptakan dunia yang benar-benar inklusif. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing)

Baca juga: Stadion Mandala Krida Didesain Ramah Difabel

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved