Kisah Inspiratif
"Teman Bisik" Hadirkan Euforia Baru bagi Difabel Netra di Stadion Maguwoharjo
Komunitas Sadar Belajar mengajak teman-teman difabel agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Komunitas Sadar Belajar mendorong Difabel Aktif di Keseharian
Sadar Belajar Indonesia lahir dari sebuah harapan besar yaitu menciptakan pendidikan yang inklusif dan merata bagi semua.
Apa yang dimulai sebagai program kecil selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2020, kini telah berkembang menjadi gerakan kolektif yang membawa perubahan nyata.
Mereka teguh meyakini bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki potensi luar biasa.
Oleh karena itu, tugas utama komunitas adalah menciptakan ruang aman agar potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Komunitas ini memiliki fokus unik yaitu mengajak teman-teman difabel agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari.
Mereka secara sengaja membawa anak-anak difabel untuk bersentuhan langsung dengan berbagai aktivitas harian yang lazim dilakukan oleh banyak orang.
“Kita pernah ajak anak-anak netra untuk orientasi mobilitas atau jalan-jalan gitu yaa.. di Malioboro, kemudian pernah juga ke supermarket untuk praktik belanja, kemudian selanjutnya akan ada jalan-jalan naik KRL ke Mangkunegaran Solo” Jelas Rizal kepada Tribun Jogja (13/10/2025).
Tujuannya ganda, pertama, agar anak-anak difabel dapat lebih mengenal dan beradaptasi dengan dunia luar.
Lalu yang kedua dan tidak kalah penting, agar masyarakat umum juga dapat mengenal dan memahami mereka.
Menurut Rizal, sang founder, sering kali interaksi masyarakat dengan difabel terhambat oleh rasa takut atau canggung.
Ia berpendapat, alasan ketakutan ini mungkin karena sebagian besar orang tidak memiliki pengalaman berinteraksi, bertemu, atau sekadar berbincang dengan difabel sejak kecil.
Oleh karena itu, upaya Komunitas Sadar Belajar untuk melibatkan teman-teman difabel dalam keramaian adalah sebuah gebrakan penting.
Ini merupakan cara nyata untuk meruntuhkan tembok pembatas, memecah kesalahpahaman, dan secara perlahan menciptakan dunia yang benar-benar inklusif. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing)
Baca juga: Stadion Mandala Krida Didesain Ramah Difabel
| Kabar Lea Bocah SD di Kulon Progo Asuh Adik Saat Ibu Jalani Kemoterapi |
|
|---|
| Kisah Bripda Khoirudin Mustakim Harumkan Nama Klaten di SEA Games 2025 |
|
|---|
| Dias Rizki Anak Penjual Sate Asal Cilacap Jadi Wisudawan Terbaik Untidar Magelang |
|
|---|
| Kisah Muhammad Suryo Alumni UPN Yogyakarta Jadi Bos Rokok HS hingga Tambang |
|
|---|
| Tiga Dekade, Tujuh Presiden: Kisah Honorer Magelang Akhirnya Diangkat ASN PPPK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Relawan-Teman-Bisik-Stadion-Maguwo.jpg)