Menjaga Sleman Sebagai Sentra Salak 

Luas lahan dan produksi salak yang sentranya tersebar di seputar lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman kian menurun

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
tribunjogja/hamimthohari
Salak Madu 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN-- Luas lahan dan produksi salak yang sentranya tersebar di seputar lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman kian menurun. 

Alih fungsi lahan dan pergantian komoditas holtikultura diduga menjadi faktor penyebabnya. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman sebenarnya tidak tinggal diam. Usaha keras untuk menghambat laju penyusutan lahan, meningkatkan produksi dan menyelematkan komoditas yang menjadi icon unggulan Bumi Sembada ini terus dilakukan.

"Kami tidak menutup-nutupi bahwa mungkin sudah hampir sekitar 200 hektare lahan salak pondoh yang beralih fungsi, yang dirombak menjadi tanaman hortikultura. Kita sedikit demi sedikit mencoba tetap mempertahankan," kata Plt. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Rafiq Andriyanto, Rabu (15/10/2025). 

Lahan perkebunan Salak di Kabupaten Sleman tersebar di beberapa kapanewon seputar lereng merapi. 

Namun mayoritas ada di Tempel, Turi dan Pakem. Saat ini luas lahan salak pondoh, berdasarkan data tahun 2024 seluas 890,66 hektare.

Luas lahan tersebut menyusut cukup banyak dibandingkan tahun sebelumnya yakni 1.048 hektare. 

Menurut Rofiq, luas lahan salak pondoh pernah mencapai hingga 1.200an hektare namun kini mulai menyusut. 

Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, melalui laporan Statistik Pertanian Hortikultura (SPH) Buah dan Sayuran Tahunan (BST) melaporkan bahwa jumlah tanaman dan produksi Salak setiap tahun menyusut.

Pada tahun 2023, misalnya jumlah tanaman salak mencapai 6.291.050 rumpun dengan total produksi 485,729.85 kuintal. Angka ini menyusut di tahun 2024 menjadi 6.272.950 rumpun salak dengan produksi 426,160.84 kuintal.

Adapun di tahun 2025 data hingga triwulan II jumlah tanaman salak 6.272.950 rumpun dengan produksi 191,399.89 kuintal.

Rofiq mengungkapkan, upaya menghambat laju penyusutan lahan dan peningkatan produksi salak terus dilakukan.

Mulai dari peremajaan tanaman, bantuan sarana pertanian, hingga dukungan pemasaran dengan merambah pasar ekspor untuk menyelamatkan petani salak di tengah anjloknya harga saat musim panen raya.

Upaya lain dilakukan dengan membantu registrasi kebun untuk menjamin mutu dan keamanan pangan serta mempercepat akses pasar. 

Kemudian pengembangan varietas baru, selain pondoh, Kabupaten Sleman juga dikenal dengan varietas salak gading dan salak madu. 

"Madu ini sebagai varietas baru, saya minta agar bibitnya ditahan untuk Sleman saja. Tidak menjual bibit ke luar daerah, sehingga jika ingin mencari salak madu silakan datang ke Kabupaten Sleman," ujar dia. 

Baca juga: Peringati HUT Ke-74 Kulon Progo, DPRD Soroti Terbaliknya Hubungan Masyarakat dan Pemerintah

Pasar Ekspor 

Salak, sebagai komoditas unggulan asal Sleman kini menambah pasar ekspor untuk menyelematkan harga, ketika harga pasaran lokal sedang jatuh. 

Pasar ekspor yang mulai dilakukan sejak 2017 ini, dilakukan oleh para petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo. 

Ketua Paguyuban, Suroto mengungkapkan ekspor merupakan jalan untuk membela petani Salak di Sleman. Sebab harga pasaran lokal di bulan panen raya anjlok hanya Rp 2 ribu per kilogram. Padahal harga pokok produksi (HPP) Salak perkilogramnya Rp 4 ribu. 

Jika Salak dijual pasar lokal sudah pasti petani merugi. Namun ketika di ekspor harganya jauh lebih tinggi. Penetapan standar harganya juga lebih menguntungkan. 

"Kalau ekspor standar harga paling murah adalah HPP + Rp 3 ribu (per kilogram). Ketika tidak panen raya seperti bulan September, maka harganya bisa HPP + Rp 8 ribu,"ujar dia. 

Menurut Suroto, Paguyuban Mitra Turindo beranggotakan lebih dari 300 petani Salak yang berada di seputar lereng Merapi. 

Masing-masing petani mitra telah dibekali ketrampilan budidaya dan mempunyai nomer registrasi kebun sebagai standar budidaya.

Hasil dari panen dikumpulkan dan dipilah lalu di ekspor ke negara Kamboja hingga Tiongkok. Ekspor dilakukan hampir dua hari sekali. 

"Sekali kirim, kalau pakai pesawat sekitar 5-6 ton salak. Kalau menggunakan kapal bisa 10-15 ton. Prosentase, kebanyakan menggunakan pesawat. Kalau dihitung 70 persen kita menggunakan pesawat. Jenisnya salak pondoh dengan tujuan ada di Tiongkok dan juga Kamboja," ujar dia.(*) 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved