Smart City Harus Lahir Dari Kesadaran Kolektif

Mewujudkan smart city yang berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi. 

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Citiasia Inc. bersama Yayasan Bangsa Cerdas Indonesia (YBCI) menyelenggarakan Community Gathering bertema “Smart City Action in Yogyakarta”. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mewujudkan smart city yang berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi. 

Keterlibatan masyarakat, literasi digital, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia adalah kunci utama untuk membangun ekosistem smart society yang menjadi fondasi bagi kota cerdas. Pesan inilah yang diusung Citiasia Inc. bersama Yayasan Bangsa Cerdas Indonesia (YBCI) melalui penyelenggaraan Community Gathering bertema “Smart City Action in Yogyakarta”.

Citiasia dan YBCI menegaskan bahwa smart city harus lahir dari kesadaran kolektif masyarakat untuk beradaptasi dan berinovasi. 

Teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia adalah penggerak utama. Oleh karena itu, penguatan kapasitas, literasi digital, dan partisipasi lintas generasi menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa transformasi kota cerdas benar-benar inklusif dan menjawab kebutuhan semua lapisan warga.

Menurut CEO Citiasia Inc., Fitrah Rachmat Kautsar, penguatan smart society merupakan inti dari implementasi smart city yang berkelanjutan. 

“Keterlibatan komunitas serta generasi muda sangat krusial dalam mewujudkan smart city yang berlandaskan data, teknologi, dan partisipasi masyarakat. Smart city bukan hanya konsep, tetapi aksi nyata yang mampu menjawab kebutuhan warga secara langsung,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum YBCI, Hari Kusdaryanto, menambahkan bahwa “smart city haruslah technically sound dan politically feasible. Keduanya harus berjalan ber iringan agar pembangunan kota cerdas dapat berkesinambungan. Yang terpenting, smart city harus inklusif tidak boleh ada kelompok yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas yang harus dilibatkan sejak tahap perencanaan,” tegasnya.

Diskusi yang berlangsung hangat memunculkan berbagai gagasan dari peserta. Mulai dari pentingnya pembangunan smart village untuk pemerataan teknologi hingga penegasan bahwa inovasi teknologi tidak akan berjalan optimal tanpa partisipasi aktif masyarakat. Bahkan, di antara peserta yang hadir, terdapat juga dari kalangan penyandang disabilitas yang menekankan agar smart city tidak berubah menjadi difficult city akibat tidak ramah difabel.

Dengan kolaborasi, literasi digital, penguatan kapasitas SDM, hingga pemberdayaan komunitas, transformasi kota cerdas diharapkan mampu diwujudkan secara inklusif, relevan, dan berkelanjutan.

“Membangun smart city pada dasarnya adalah membangun manusia dan masyarakat yang juga cerdas. Dengan ekosistem smart society yang kuat, kita akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan dan memastikan Yogyakarta serta Indonesia bergerak menuju peradaban yang maju,” pungkas Fitrah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved