Garebeg Maulud 2025

Ritual Raja Kraton Yogyakarta Jejak Tumpukan Bata Rangkaian Maulud Nabi Muhammad 

Ritual Sri Sultan Hamengku Buwono X merubuhkan tumpukan batu bata di sisi selatan masjid kagungan dalem itu, menjadi momen spesial

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
JEJAK BANON: Sri Sultan HB X menjalani prosesi jejak banon di benteng sisi selatan Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, Kamis (4/9/25/2025) malam. 

 

Tribunjogja.com Yogyakarta -- Ritual jejak banon (menjejak tumpukan bata) mewarnai prosesi Hajad Dalem Sekaten, di Halaman Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, Kamis (4/9/2025) malam.

Ritual Sri Sultan Hamengku Buwono X merobohkan tumpukan batu bata di sisi selatan masjid kagungan dalem itu, menjadi momen spesial yang menandai peringatan tahun dal.

 

Sebagai informasi, tahun dal adalah siklus tahunan dalam penanggalan Jawa, dengan makna spiritual dan budaya yang istimewa, serta berulang setiap delapan tahun sekali.

 

Setiap tahun dal pula, Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat melakukan prosesi jejak banon, selepas Pembacaan Riwayat Nabi Muhamad SAW dalam rangka peringatan Mulud.

 

Prosesi ini untuk mengenang upaya Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kraton Ngayogyakarta, kala menyelamatkan diri dari musuh selepas salat Jumat di lokasi yang sama.

 

Pada kisaran pukul 22.00 WIB, Sri Sultan Hamengku Buwono X terlihat mulai beranjak dari Masjid Gedhe Kauman dengan didampingi iring-iringan abdi dalem.

 

Ngarsa Dalem lantas berjalan ke arah selatan Masjid Gedhe Kauman, menuju pintu butulan di beteng bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh, dan jadi saksi perlawanan 
leluhurnya.

 

KRT Kusumonegoro, Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, mengungkapkan, karena tahun dal, terdapat beberapa perbedaan dengan prosesi Hajad Dalem Sekaten.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved