Reaksi Orang Tua di Bantul soal Maraknya Keracunan MBG: Pemerintah Kurang Profesional
Selama ini pelaksanaannya terkesan kurang profesional. Sebaiknya, tetap dilaksanakan, tetapi supervisi dilakukan secara ketat dan rutin
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah orang tua di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengomentari kejadian keracunan menu makan siang bergizi gratis (MBG) yang terjadi di beberapa wilayah Tanah Air, termasuk di Kabupaten Sleman.
Masyarakat berharap agar pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan makanan yang didustribusikan kepada anak sekolah.
Sebab, mereka khawatir jika menu MBG itu tidak dicek dengan baik akan berimbas pada banyak korban keracunan.
Salah satu orang tua dari Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Jono (44), mengaku khawatir kasus keracunan dari MBG dapat menjamur di wilayah lain. Sebab, belakangan ini, kasus keracunan makanan dijumpai di berbagai daerah.
"Sebenarnya saya mendukung program Pak Presiden Prabowo soal MBG itu. Tapi, saya harap, pemerintah juga melakukan pengawasan yang ketat saat proses pemilihan bahan dasar, proses masak, hingga pendistribusian," katanya kepada Tribunjogja.com, Kamis (28/8/2025).
Diberitakan sebelumnya, kasus keracunan MBG terbaru terjadi di Berbah Sleman, Rabu (27/8/2025).
Kali ini menimpa siswa dan guru SMP Negeri 3 Berbah. Mereka keracunan diduga setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jumlah korban bergejala berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan tercatat ada 137 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, dr Khamidah Yuliati, menyampaikan berdasarkan laporan yang diterima hingga pukul 12.50 WIB, dugaan keracunan pangan yang terjadi di SMPN 3 Berbah.
Jumlah yang bergejala keracunan ada 137 orang, dari total 380 orang yang mengonsumsi menu makanan.
Adapun mereka yang bergejala 135 adalah siswa dan 2 orang guru. Korban bergejala langsung mendapatkan penanganan medis.
Respons orang tua di Bantul
Merespons dugaan keracunan MBG tersebut, orang tua di Bantul berharap seluruh proses pembuatan dan pendistribusian MBG harus berjalan dengan mengutamakan higienis yang tinggi.
Sebab, ia menilai bahwa kasus keracunan makanan, biasa terjadi dikarenakan ada kontaminasi bakteri dari makanan yang akan didustribusikan.
"Ya saya pengennya, pemerintah ketika memberikan suatu program itu berjalan dengan matang. Artinya, sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya itu benar-benar handal di bidangnya. Jadi, tidak ada lagi yang namanya keracunan makanan," jelasnya.
Kurang profesional
Demikian pula dengan, Agus (39), warga Kapanewon Bantul, turut berkomentar bahwa sebenarnya setuju dengan program MBG. Sebab, program itu dapat meningkatkan gizi dan meringankan beban orang tua untuk memberikan sangu kepada anak.
"Tapi selama ini pelaksanaannya terkesan kurang profesional. Sebaiknya, tetap dilaksanakan, tetapi supervisi dilakukan secara ketat dan rutin," pesannya.
Ia pun menjelaskan bahwa anaknya kerap mendapatkan MBG dengan menu yang kurang sesuai dengan selera anak sekolah.
"Anak saya kan sekolah di salah satu SMP di Jogja. Di bilang selalu dapat MBG. Tapi, menunya kurang sesuai selera anak-anak. Saya juga harap, ke depan tidak hanya kualitas dan higienis makanan saja yang diutamakan, tetapi juga selera makan anak-anak turut diperhatikan," pintanya.(nei)
Mayat Bayi Laki-laki Terbungkus Plastik dalam Ember Ditemukan di Maguwoharjo |
![]() |
---|
Barca Cari Solusi Penuhi Regulasi Keuangan La Liga, Akankah Fermin Dilepas |
![]() |
---|
Kukuhkan Bulan Dana PMI 2025, Wali Kota Magelang Ajak Masyarakat Peduli Sesama |
![]() |
---|
DPRD Bantul Tergetkan Perubahan Perda Tentang LP2B Rampung pada Triwulan III 2025 |
![]() |
---|
Dana Bantuan Parpol di Sleman Diusulkan Naik 140 Persen |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.