Kasus Keracunan MBG Terjadi Lagi, Orangtua di Sleman: Jika Tidak Mampu Lebih Baik Dihentikan
Jika program MBG masih berjalan, sebaiknya menunya pun menghindari ultra process food, seperti naget, sosis, dan lain-lain.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Ia pun sempat menghubungi pihak sekolah anaknya untuk memastikan menu yang dikonsumsi hingga prosedur distribusi.
"Waktu itu saya tanya ke guru soal menunya dan distribusinya. Ternyata sama gurunya dicicipi dulu sebelum dibagikan. Artinya sekolah sudah berupaya memastikan makanan aman. Dulu waktu ada MBG juga didata dulu ada yang alergi atau tidak,” terangnya.
Menurut dia, MBG adalah program yang positif, khususnya dalam pemenuhan gizi anak.
Namun, dalam proses memasak hingga distribusi memang harus benar-benar diperhatikan.
Pihak SPPG yang mengelola MBG pun harus memiliki kapabilitas mumpuni dalam memasak hingga distribusi.
“Jangan hanya karena uang, aji mumpung, kemudian kebersihan dan kapasitas diabaikan. Kalau SPPG tidak mampu, ya jangan terima MBG, jangan karena uang. Kalau keracunan massal, kasihan anak-anak juga. Programnya bagus, tetapi kalau tidak bisa dikelola dengan baik lebih baik dihentikan, daripada malah pemborosan anggaran,” pungkasnya. (*)
Kepala Sekolah di Kulon Progo Tak Keberatan Harus Cicipi MBG Demi Antisipasi Keracunan |
![]() |
---|
Keselamatan Guru dan Siswa Tak Boleh Diabaikan, JCW Desak BGN Beri Sanksi Tegas Penyedia MBG |
![]() |
---|
Sekda Kulon Progo Sebut Satgas MBG Akan Difokuskan pada Distribusi Hingga Masalah di Makanan |
![]() |
---|
Dominikus Dion Batal Gabung Timnas U-23 Indonesia, Dokter Tim PSS Sleman Ungkap Kondisi Pemain |
![]() |
---|
3 Kasus Keracunan Massal Terjadi Dalam Waktu Sebulan Terakhir di DIY, Begini Tanggapan Kepala BGN |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.