Kasus Keracunan MBG Terjadi Lagi, Orangtua di Sleman: Jika Tidak Mampu Lebih Baik Dihentikan

Jika program MBG masih berjalan, sebaiknya menunya pun menghindari ultra process food, seperti naget, sosis, dan lain-lain.

Dok. Istimewa
Ilustrasi keracunan makanan 

Ia pun sempat menghubungi pihak sekolah anaknya untuk memastikan menu yang dikonsumsi hingga prosedur distribusi.

"Waktu itu saya tanya ke guru soal menunya dan distribusinya. Ternyata sama gurunya dicicipi dulu sebelum dibagikan. Artinya sekolah sudah berupaya memastikan makanan aman. Dulu waktu ada MBG juga didata dulu ada yang alergi atau tidak,” terangnya.

Menurut dia, MBG adalah program yang positif, khususnya dalam pemenuhan gizi anak.

Namun, dalam proses memasak hingga distribusi memang harus benar-benar diperhatikan. 

Pihak SPPG yang mengelola MBG pun harus memiliki kapabilitas mumpuni dalam memasak hingga distribusi.

“Jangan hanya karena uang, aji mumpung, kemudian kebersihan dan kapasitas diabaikan. Kalau SPPG tidak mampu, ya jangan terima MBG, jangan karena uang. Kalau keracunan massal, kasihan anak-anak juga. Programnya bagus, tetapi kalau tidak bisa dikelola dengan baik lebih baik dihentikan, daripada malah pemborosan anggaran,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved