Keracunan MBG di Berbah
Kasus Berulang di Yogyakarta Siswa Keracunan Seusai Menyantap Menu MBG
keracunan makanan program makan bergizi gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta menimpa siswa dan guru SMP Negeri 3 Berbah
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com - Kasus siswa diduga keracunan makanan program makan bergizi gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta layak menjadi perhatian serius.
Catatan Tribunjogja.com, pada Agustus 2025 saja, sudah terjadi beberapa kasus keracunan di beberapa sekolah setelah menyantap menu MBG.
Kasus pertama, pada Rabu (13/8/2025) ada 379 siswa, dari 4 sekolah yakni SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Pamungkas dan SMP Negeri 3 Mlati.
Mayoritas mengalami gejala mual pusing hingga diare setelah sehari sebelumnya mengonsumsi MBG dengan menu rawon.
Kala itu, siswa yang bergejala massal ini dibawa ke Puskesmas Mlati 1 dan Puskesmas Mlati II untuk mendapatkan penangan medis awal.
Siswa yang kondisinya membaik setelah mendapat penanganan medis diperbolehkan pulang.
Sedangkan 19 siswa yang membutuhkan penanganan lanjutan dirujuk ke RSUD Sleman dan 1 ke RSA UGM.

Giliran SMPN 3 Berbah
Dan terbaru, Kasus dugaan keracunan makanan, diduga setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Sleman.
Kali ini menimpa siswa dan guru SMP Negeri 3 Berbah. Jumlah korban bergejala berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan tercatat ada 137 orang, Rabu (27/8/2025).
Menurut data Dinkes Sleman melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Sleman dr. Khamidah Yuliati, berdasarkan laporan yang diterima hingga pukul 12.50 WIB, dugaan keracunan pangan yang terjadi di SMPN 3 Berbah.
Data sementara menyebutkan jumlah orang bergejala 137 orang dari 380 orang.
Mereka yang bergejala 135 adalah siswa dan 2 orang guru, saat ini korban bergejala langsung mendapatkan penanganan medis.
Untuk penanganan di lingkungan sekolah, bagi siswa yang bergejala melibatkan 9 tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Berbah.
"Rawat jalan RSUD Prambanan 1, rawat jalan Puskesmas Berbah 2 dan diobati di sekolah oleh (tenaga medis) Puskesmas Berbah 66 orang," kata dr. Khamidah Yuliati, Rabu (27/8/2025).
Keracunan di Kulon Progo
Sebelum di Sleman, kasus serupa sempat terjadi di wilayah Kulon Progo.
Gejala itu dialami oleh ratusan pelajar dari sejumlah sekolah di Kapanewon Wates pada Kamis (31/07/2025).
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Wahyudi menyampaikan bahwa laporan dugaan keracunan diterima sekitar pukul 7.30 WIB, Kamis pagi.
"Ada beberapa sekolah yang melaporkan, meliputi SMP Negeri 2 Wates, SMP Muhammadiyah 2 Bendungan, SDN Triharjo, dan SDN Sogan," kata Nur pada wartawan.
Berdasarkan penelusuran sementara, gejala keracunan diduga berasal dari menu MBG yang mereka santap sehari sebelumnya, atau Rabu (30/07/2025).
Gejalanya baru muncul hari ini saat para pelajar sudah ada di sekolah.
Menurut Nur, hampir semua dari 380 pelajar SMPN 2 Wates mengalami gejala keracunan.
Menyusul 30 pelajar dari SMP Muhammadiyah 2 Bendungan, 6 pelajar SDN Triharjo, dan 2 pelajar SDN Sogan.
Hasil Lab
Setelah kasus keracunan di Kulon Progo, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo telah menerima hasil pemeriksaan sampel makanan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Kulon Progo, Arif Mustofa menjelaskan sampel makanan diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta.
Selain makanan, sampel diambil dari cairan muntahan dan feses dari pelajar yang bergejala.
"Ada 3 kloter sampel makanan yang diambil, yang berasal dari nasi putih, daging ayam, sayur tumis, tahu goreng, dan semangka," jelas Arif di Kantor Dinkes Kulon Progo, Rabu (20/08/2025).
Berdasarkan pemeriksaan BLKK, ditemukan 3 bakteri dalam sampel makanan yaitu E. Coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus Cereus.
Pada cairan muntah ditemukan Bacillus Cereus, dan di feses terdapat E.Coli.
Menurut Arif, temuan tersebut memastikan makanan yang dikonsumsi para pelajar saat itu sudah terkontaminasi bakteri.
Namun pihaknya tidak bisa menarik kesimpulan penyebab utama masuknya bakteri ke makanan.
"Penyebabnya multifaktor, bisa dari bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, atau saat konsumsi di sekolah," ujarnya.
Tujuan Mulia tapi..
Program makan bergizi gratis (MBG) sejatinya memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya siswa. Namun, aspek keamanan pangan tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaannya.
“Kalau makanannya tidak aman, maka tidak boleh disajikan,” kata Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) UGM, Prof. Sri Raharjo, Jumat (16/5/2025) berkomentar tentang MBG yang kerap menyebabkan siswa keracunan.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM mengatakan keracunan makanan bisa disebabkan oleh dua hal, yakni food intoxication atau keracunan akibat racun yang dihasilkan oleh bakteri dan food infection atau infeksi akibat mengkonsumsi bakteri patogen.
Keduanya kerap terjadi tanpa tanda-tanda yang terlihat.
“Makanan bisa tampak dan terasa normal saat dikonsumsi, tetapi efeknya baru muncul beberapa jam atau bahkan keesokan harinya,” ujarnya.
Menurut Raharjo, salah satu tantangan besar dalam program seperti MBG adalah skala produksinya yang sangat besar apalagi menyediakan ribuan paket makanan membutuhkan manajemen ketat dalam setiap tahap mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, hingga proses pemasakan.
“Kalau 3.000 paket makanan harus disiapkan, itu bukan urusan dapur rumah tangga lagi. Harus ada fasilitas, alat, dan orang yang kompeten,” ujarnya.
Adapun keracunan makanan yang ditimbulkan berasal dari kesalahan atau kelalaian dari pengelola menu seperti bahan mentah yang tidak disimpan dengan benar, daging yang tidak dimasak merata, atau peralatan yang tidak higienis.
Misalnya, daging yang tampak matang di luar belum tentu telah mencapai suhu 75°C di bagian dalam suhu minimal yang diperlukan untuk membunuh bakteri patogen. Bahkan bisa terjadi dari pemilihan bahan baku pun mengandung risiko.
“Daging dari pasar tradisional, misalnya, kerap tidak dibersihkan dengan baik setelah proses pemotongan sehingga rentan terkontaminasi oleh kotoran atau isi usus hewan,” ungkapnya.
Solusi yang ditawarkan Prof. Raharjo mencakup tiga hal penting, yakni kesadaran, kapasitas, dan kontrol. Semua pihak baik penyedia, pelaksana, hingga pengawas menurutnya harus memahami risiko dan menerapkan standar keamanan pangan secara disiplin.
Mulai dari penggunaan lemari es yang memadai, alat masak berkapasitas besar, hingga prosedur memasak yang memastikan setiap bagian makanan benar-benar matang.
“Kalau tidak tuntas panasnya, bakteri masih bisa hidup dan itu bisa menyebabkan sakit,” tegasnya. (Tribunjogja.com/rif/alx/ard)
Baca juga: BREAKING NEWS : 137 Siswa dan Guru SMP di Sleman Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG di Berbah
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.