Gunungkidul Gelar Pasar Murah Bahan Pokok hingga Akhir Tahun

Kegiatan pasar murah akan digelar secara berkala di sejumlah kapanewon maupun pasar tradisional di Gunungkidul.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
PASAR MURAH: Foto dok ilustrasi pasar murah. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Perdagangan menyiapkan pasar murah hingga akhir tahun sebagai langkah antisipasi gejolak harga bahan pokok (bapok).

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ris Heriyani mengatakan kegiatan pasar murah akan digelar secara berkala di sejumlah kapanewon maupun pasar tradisional. Fokus utama tetap pada komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan harian lain yang kerap memicu inflasi.

“Pasar murah ini menjadi instrumen pemerintah untuk menekan potensi kenaikan harga. Kami berupaya memastikan masyarakat tetap bisa mengakses bapok dengan harga lebih terjangkau,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (25/8/2025).

Ia mengatakan sepanjang  Januari - Juli 2025, total operasi pasar murah yang  sudah digelar sebanyak 17 titik. Dengan rata-rata, sekitar lima-tujuh ton komoditas pangan  yang dijual terdiri dari beras, telur, minyak goreng, gula pasir hingga tepung terigu.

"Harga jualnya dibuat lebih murah, dengan subsidi sebesar Rp3.500 per kilonya, untuk masing-masing komoditas," tuturnya.

Selain menjaga daya beli,  kata dia, kegiatan ini juga menjadi upaya pemerintah daerah dalam menstabilkan pasar. Pihaknya bekerja sama dengan Bulog serta sejumlah distributor untuk menjamin pasokan barang mencukupi selama pelaksanaan.

Pihaknya pun berharap komoditas yang dijual dengan harga terjangkau juga dapat  mendorong kelancaran distribusi bahan pokok di tingkat lokal. 

"Kegiatan ini juga untuk menekan disparitas harga yang sering terjadi antara wilayah perkotaan dan pedesaan," terangnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini menyambut baik langkah ini. Ia menilai stabilitas harga bapok sangat menentukan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 

“Pemerintah perlu memastikan pasar murah menjangkau wilayah yang jauh dari pusat kota. Jangan hanya terkonsentrasi di Wonosari, tetapi juga menyebar ke kapanewon-kapanewon lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan Bulog dan distributor besar menjadi faktor penting agar harga jual di pasar murah benar-benar lebih rendah dibandingkan pasar tradisional. Dengan demikian, tujuan menekan inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat bisa tercapai.

“Intinya, dari kegiatan ini diharapkan  stabilitas harga bahan pokok tetap terjaga, inflasi terkendali, dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata," pungkasnya (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved