Mengapa Istilah Rojali, Roh Halus dan Rohana Bisa Muncul? Apa Dampaknya?

Fenomena ini ternyata punya istilah unik dan lucu yang viral di media sosial: Rojali (rombongan jarang beli), Roh Halus (rombongan hanya elus-elus)

Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
Shutterstock
Ilustrasi belanja online 

TRIBUNJOGJA.COM - Pernah belanja di pameran atau toko lalu bertemu rombongan yang datang ramai-ramai, tapi ujung-ujungnya tak ada yang membeli? 

Fenomena ini ternyata punya istilah unik dan lucu yang sedang viral di media sosial: Rojali (rombongan jarang beli), Roh Halus (rombongan hanya elus-elus), dan Rohana (rombongan hanya nanya). 

Tiga istilah ini bukan sekadar candaan, tapi juga potret gaya belanja masyarakat terkini.


Mengapa istilah rojali, roh halus dan rohana bisa muncul? Apa dampaknya?

Dr. Miftakhul Khasanah, S.TP., M.S.I., dosen Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyebut bahwa perilaku semacam ini sebenarnya sudah ada sejak lama.

“Kalau kita lihat dari zaman dulu, orang jalan-jalan ke mal itu sudah biasa. Mereka datang bukan hanya untuk belanja, tetapi juga untuk rekreasi. Pusat perbelanjaan sudah lama menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat,” ujar Miftakhul.

Namun demikian, Miftakhul menilai munculnya istilah itu, khususnya rojali, kemungkinan besar berangkat dari keresahan para pelaku usaha, khususnya yang bergerak di sektor ritel. 

Dalam situasi penjualan yang menurun, kehadiran pengunjung yang hanya melihat tanpa membeli dianggap tidak menguntungkan.

Fenomena ini tak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. 

Jika sebelumnya masyarakat cenderung langsung membeli produk yang dilihat di toko, kini perilaku tersebut mulai bergeser karena hadirnya e-commerce.

“Banyak konsumen memilih untuk membandingkan harga dan kemudian membeli secara online. Biasanya, mereka melihat produk di toko, lalu mengecek harga di marketplace. Jika lebih murah, mereka akan lebih memilih untuk membeli secara online,” jelasnya.

Baca juga: Rombongan Jarang Beli Alias Rojali Serbu Mal Jogja Sleman, Ini Tanggapan APBI DIY

Meski fenomena itu tengah menjadi sorotan, hal tersebut belum cukup untuk dijadikan indikator pasti pelemahan daya beli masyarakat. 

Penilaian semacam ini, menurutnya, memerlukan kajian yang lebih mendalam berbasis data yang valid. 

Salah satu pendekatannya adalah dengan melihat hasil survei konsumen dari Bank Indonesia maupun survei penjualan eceran.

“Kita harus melihat survei konsumen dari Bank Indonesia, survei penjualan eceran, dan sumber data lainnya. Jika hanya melihat fenomena itu saja, itu tidak cukup. Meskipun demikian, fenomena ini bisa menjadi sinyal awal penurunan daya beli di beberapa wilayah,” tambah Miftakhul.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved