Waspada Beras Oplosan, Ancaman Gizi dan Kesehatan di Balik Praktik Curang
Selain kehilangan nutrisi, Faurina mengingatkan bahwa beras oplosan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Faurina juga menjelaskan sejumlah cara yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengenali beras oplosan secara mandiri.
Deteksi pertama bisa dilakukan dari ciri visual, aroma, tekstur, dan rasa.
Dari segi visual, masyarakat dapat mengamati warna butiran beras.
“Beras oplosan sering menunjukkan warna yang tidak merata, di mana butiran putih cerah bercampur dengan yang kusam atau kekuningan. Beberapa juga tampak terlalu putih mengkilap, menyerupai plastik. Beras asli umumnya memiliki warna putih alami, tidak terlalu mengkilap,” ungkapnya.
Selain itu, ukuran butiran beras juga bisa menjadi indikator. Beras oplosan biasanya mencampur bulir panjang-pendek atau besar-kecil dalam satu kemasan, berbeda dengan beras asli yang cenderung seragam, berbentuk gemuk, dan memiliki guratan alami.
“Beras palsu atau sintetis tampak lebih ramping, mulus tanpa guratan, dan bening,” jelasnya. Tanda lain adalah adanya benda asing saat dicuci.
“Jika saat mencuci beras muncul serpihan plastik, serbuk putih, atau partikel lain yang tidak biasa, hal ini patut dicurigai sebagai indikasi beras oplosan atau palsu,” tambahnya.
Aroma juga menjadi salah satu aspek penting untuk mendeteksi keaslian beras. Menurut Faurina, beras oplosan mungkin mengeluarkan bau apek, bau kimiawi, bau sangit seperti plastik terbakar, atau bahkan tidak berbau sama sekali.
“Beras asli umumnya memiliki aroma khas yang netral, sedikit harum, atau wangi pandan yang lembut,” ujarnya.
Dari segi tekstur, beras oplosan sering terasa terlalu halus, licin, dan mengkilap seperti plastik saat disentuh, sedangkan beras asli memiliki permukaan yang lebih kasar.
Ia menambahkan bahwa beras oplosan cenderung keras dan tidak mudah patah saat ditekan dengan kuku.
“Jika beras cenderung menempel pada telapak tangan saat diremas dalam keadaan kering, ini bisa menjadi indikasi bahwa beras tersebut telah dicampur dengan pelicin bahan kimia,” tutur Faurina.
Beras oplosan juga dapat dikenali setelah dimasak. Nasi yang dihasilkan bisa terasa aneh, terlalu lembek, cepat basi, atau cepat mengeras dan sulit dicerna setelah dingin.
“Nasi tidak wajar ini merupakan salah satu tanda utama. Beras sintetis juga dapat mengeluarkan air saat dimasak, bukan menyerapnya seperti beras normal. Nasi dari beras asli akan menghasilkan tekstur yang lembut, pulen, manis, dan mudah dikunyah,” ujarnya.
Faurina menyarankan beberapa tes tambahan seperti tes air dan tes bakar untuk memastikan.
| Harga Komoditas Bahan Pokok di Pasar Bantul Mulai Naik, Warga Mulai Beralih Beli Beras Medium |
|
|---|
| Pura Pakualaman Gandeng FKKMK UGM, Gelar Bakti Sosial Dharma Mulyarja di Giripurwo Kulon Progo |
|
|---|
| Capaian Serapan Beras Perum BULOG DIY Tembus 91 Persen, Optimistis Lampaui Target Tahunan |
|
|---|
| Pemkab Magelang Kejar Predikat Wiwerda 2027, Program Kabupaten Sehat Terus Diperkuat |
|
|---|
| Gojek dan Kemenkes Fasilitasi Cek Kesehatan Gratis untuk Mitra Driver di 17 Kota Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/beras-naik-harga.jpg)