Waspada Beras Oplosan, Ancaman Gizi dan Kesehatan di Balik Praktik Curang
Selain kehilangan nutrisi, Faurina mengingatkan bahwa beras oplosan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Praktik peredaran beras oplosan yang semakin marak di Indonesia menuai kekhawatiran luas, bukan hanya karena merugikan konsumen secara ekonomi, tetapi juga karena dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Faurina Risca Fauzia, Dosen Gizi dari Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, yang menyoroti bahaya dari konsumsi beras yang telah dicampur atau dimanipulasi.
“Selain bahaya kesehatan langsung akibat bahan kimia, konsumsi beras yang dicampur dan dimanipulasi juga memiliki dampak gizi yang perlu diperhatikan,” kata Faurina.
Menurutnya, pencampuran beras premium dengan jenis berkualitas rendah dapat menurunkan kandungan nutrisi penting seperti vitamin B1 yang sangat dibutuhkan tubuh.
“Meskipun dampak ini mungkin tidak menyebabkan efek fatal secara langsung, konsumsi rutin dalam jangka panjang dapat menyebabkan defisit gizi kumulatif yang merugikan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Selain kehilangan nutrisi, Faurina mengingatkan bahwa beras oplosan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis.
Studi menunjukkan bahwa praktik adulterasi atau pemalsuan pangan dapat memicu lonjakan gula darah, risiko diabetes, penambahan berat badan di area perut, obesitas, dan peningkatan kadar lipid darah yang memicu tekanan darah tinggi.
“Praktik adulterasi pada dasarnya mengubah sifat alami makanan, sehingga memperburuk risiko kesehatan yang mungkin sudah ada dari konsumsi makanan berkualitas rendah atau junk food,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kontaminan dalam beras, baik yang terjadi secara alami maupun akibat pencampuran, dapat berakumulasi dalam tubuh dan memperberat kerja organ vital.
“Akumulasi ini akan memperberat kerja sistem detoksifikasi organ vital seperti hati dan ginjal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ-organ tersebut,” ucapnya. Salah satu kontaminan yang patut diwaspadai adalah arsenik.
Baca juga: Babak Baru Beras Oplosan, Tiga Orang Ditetapkan jadi Tersangka
Tanaman padi (Oryza sativa L.) diketahui memiliki kemampuan tinggi dalam mengakumulasi arsenik, bahkan hingga 10 kali lebih banyak dibandingkan sereal lain seperti gandum.
Hal ini diperparah oleh cara penanaman padi yang terendam air, memudahkan pelarutan arsenik dalam tanah dan penyerapan ke dalam tanaman.
“Arsenik anorganik, bentuk yang lebih toksik, dapat masuk ke dalam beras melalui transporter silikon yang secara tidak sengaja mengangkut arsenit,” kata Faurina.
Ia menambahkan bahwa beras menjadi salah satu sumber utama paparan arsenik dalam diet, terutama di kalangan masyarakat yang mengonsumsi beras dalam jumlah besar.
“Paparan arsenik, bahkan pada kadar rendah, dapat menyebabkan mual, muntah, diare, detak jantung tidak teratur, dan kerusakan pembuluh darah. Pada kadar yang tinggi dan paparan jangka panjang, zat ini dapat meningkatkan risiko keracunan arsenik, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan kulit, kerusakan saraf, penyakit jantung, serta berbagai jenis kanker seperti kanker kulit, paru-paru, dan kandung kemih,” tegasnya.
Rahasia Panjang Umur ala Jepang, Ini 7 Makanan Sehat yang Wajib Dicoba |
![]() |
---|
Harga Beras di DIY Sesuai Dengan HET Terbaru |
![]() |
---|
Beras Medium Resmi Naik, Ini Perbandingan Harganya di Seluruh Indonesia |
![]() |
---|
Penjelasan Menkes Soal Wacana Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan |
![]() |
---|
Panduan Merawat Diri Menurut Aturan Agama Islam Sesuai Alquran dan Hadist |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.