Ezra dan Scrambler-nya: Ketika Gairah Otomotif Tak Terbatas Pendengaran

Dunia otomotif selalu menarik untuk dijelajahi karena ia menjadi ruang bagi siapa saja, tanpa batas.

Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Santo Ari
MODIFIKASI : Kawasaki W175 bergaya Scrambler milik Ezra Prabu 

Tak semua part dibeli jadi. Ezra bersama temannya, Bintang, yang juga tuli, membuat beberapa bracket custom secara handmade.

Mulai dari bracket footstep ala café racer, bracket lampu depan, hingga adaptor gear belakang yang fungsional.

Salah satu tantangan terberat justru datang dari ukuran ban belakang. Dengan ukuran 130/80, ban nyaris menyentuh rantai.

Solusinya? Ezra bersama Bintang merancang adaptor gear custom dan memperlebar boshing arm agar roda belakang bisa bekerja tanpa gesekan.

 “Aslinya, swing arm ini maksimal untuk ban ukuran 120,” jelasnya.

Masalah teknis lain muncul dari tromol rem belakang yang berbunyi berdecit. Alih-alih menyerah, mereka menelusuri solusinya lewat tutorial YouTube dan akhirnya berhasil memperbaiki sendiri.

Namun untuk urusan kelistrikan dan suara mesin, Ezra mempercayakannya pada bengkel.

“Saya tidak bisa mendengar getaran atau suara mesin yang bermasalah. Jadi bagian itu saya serahkan ke mekanik,” akunya.

Dalam kesehariannya, Ezra tetap aktif menggunakan motornya untuk aktivitas harian, touring, hingga trabasan ringan. Ia mengandalkan kemampuan visual secara maksimal: melihat spion, mengecek kanan-kiri dengan teliti, serta merasakan getaran motor melalui stang atau injakan rem.

“Saya bisa merasakan kampas rem yang habis dari getaran di tangan dan kaki. Bunyi decit juga bisa terasa lewat getaran,” tambahnya.

Untuk meningkatkan visibilitas saat berkendara, Ezra juga memasang lampu sein LED terang agar sinyal beloknya lebih jelas terlihat oleh pengendara lain, terutama saat menyeberang atau berpindah jalur.

Bagi Ezra, motor adalah bentuk ekspresi. Meski tak bisa mendengar raungan knalpot atau deru mesin, ia bisa merasakan “jiwa” motor dari getaran, desain, kenyamanan, dan ketangguhan di jalan.

Dalam proses membangun motornya, Ezra juga menekankan pentingnya komunikasi dengan bengkel, terutama bagi teman-teman tuli.

Ia menyarankan menggunakan media tulis, gambar, atau ponsel untuk menyampaikan konsep yang diinginkan.

“Yang penting fokus selera dan kenyamanan masing-masing untuk mulai konsep akan modifikasi. Selain itu, yang penting motor bukan cuma soal suara saja, tetapi juga soal rasa dan gaya masing masing,” tutup Ezra.

Ezra Prabu bukan hanya seorang pehobi modifikasi, tapi juga simbol inklusivitas dunia otomotif.

Ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, berekspresi, dan tetap melaju.

Di balik ban semi trail dan knalpot scrambler-nya, ada semangat besar yang tak bisa diredam.(nto) 

 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved