BMW R100 RS Disulap Jadi Tracker ala Tedjo Klasyk
Menurut Agung Cahyono atau akrab disapa Tedjo, proses kustomisasi BMW R100 RS ini bukan pekerjaan mudah.
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM – BMW R100 RS dikenal sebagai motor touring legendaris keluaran akhir 1970-an hingga 1980-an. Bermesin 1.000 cc dengan ciri khas fairing aerodinamis, motor ini dulu menjadi ikon perjalanan jarak jauh yang nyaman, lengkap dengan boks kanan kiri, stang tinggi, serta jok tebal.
Namun, di tangan Tedjo Klasyk Motorcycle Works Yogyakarta, wujud klasik itu kini berubah total menjadi motor bergaya tracker yang lebih ramping, sporty, dan siap diajak melaju di berbagai medan.
Menurut Agung Cahyono atau akrab disapa Tedjo, proses kustomisasi BMW R100 RS ini bukan pekerjaan mudah.
Saat pertama datang, kondisi motor masih standar dengan mesin yang bahkan tidak bisa hidup.
“Mesin kami bongkar dulu untuk cek keseluruhan, kemudian di-vapor blasting ulang supaya warnanya kembali segar. Tantangannya, mesin BMW itu presisi banget, tidak ada speling. Waktu pertama hidup, mesinnya berisik, jadi harus bongkar beberapa kali sampai benar-benar halus,” jelasnya.
Beberapa komponen harus didatangkan dari luar negeri, termasuk ring piston agar sesuai spesifikasi asli. Di sisi lain, Tedjo tetap mempertahankan beberapa ciri khas BMW, seperti tangki bensin yang hanya di-chrome ulang, serta suspensi yang terkenal empuk.
“Tangki itu identitas BMW, jadi tetap dipertahankan. Shock depan-belakang juga masih bawaan karena karakter suspensinya memang jadi keunggulan motor ini,” imbuhnya.
Transformasi terbesar ada pada tampilan. Motor touring yang awalnya panjang dengan rangka penuh dudukan di bagian belakang, dipangkas habis untuk menciptakan proporsi baru. Rangka belakang dibuat ulang agar lebih sempit, disandingkan dengan sasis depan.
“Bagian paling susah itu bikin bodi yang proporsional. Mesinnya besar, jadi bodi harus dipangkas simpel tapi tetap enak dilihat. Perhitungannya lumayan lama,” ujar Tedjo.
Detail kustom lain mencakup penggunaan karburator PWK Uma 34 agar responsif, knalpot khusus buatan bengkel, hingga sistem pengereman belakang yang diganti model Jepang agar lebih praktis. Jok tipis dan spakbor minimalis menegaskan gaya tracker. Hasilnya, posisi berkendara kini lebih sporty dan handling lebih gesit dibanding versi standar.
“Sekarang riding position lebih rendah, handling lebih enak, dan manuver lebih lincah di perkotaan. Karena pakai konsep dual purpose, jalan kasar pun tetap nyaman. Meski bergaya tracker, tarikan motor ini responsif dengan torsi besar, jadi tetap enak dipakai,” terang Tedjo.
Kustomisasi ini juga jadi inspirasi bagi para pecinta motor klasik yang ingin menghidupkan kembali mesin tua. Tedjo memberi saran, bagi pemula sebaiknya mencari bahan motor dengan rangka dan bodi asli utuh, meski mesin mati.
“Untuk BMW, mesinnya lebih simpel konstruksinya, ketahanannya juga luar biasa atau kalau orang Jawa bilang wantek. Modelnya juga fleksibel, bisa dibikin cafe racer, tracker, bobber, sampai trail, tinggal pilih sesuai selera,” tutupnya.(nto)
| Catatan Positif PSIM Yogyakarta Jelang Lawan Dewa United |
|
|---|
| PDI Perjuangan Jogja Nderek Mangayubagya 80 Tahun Sri Sultan, Pemimpin Merakyat dan Mengayomi |
|
|---|
| Melawat ke Markas Dewa United, PSIM Yogyakarta Incar Kemenangan, van Gastel: Minimal Tidak Kalah |
|
|---|
| Jadwal KRL Jogja Solo Hari Jumat 3 April 2026 dari Stasiun Tugu Jogja |
|
|---|
| Dewa United vs PSIM Yogyakarta : Van Gastel Berambisi Tanggalkan Status 'King of Draw' |
|
|---|