Enam dari 19 Pasien Leptospirosis di Kota Yogya Meninggal Dunia, Tingkat Fatalitas Sentuh 31 Persen

Dinkes Kota Yogyakarta mencatat 19 kasus leptospirosis dengan 6 di antaranya meninggal dunia.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ M Fauziarakhman
Grafis Leptospirosis 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tingkat fatalitas penyakit leptospirosis di Kota Yogyakarta menunjukkan tren mengkhawatirkan, dengan angka kematian pasien menyentuh 31 persen.

Hingga pekan pertama bulan Juli 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat 19 kasus leptospirosis dengan 6 di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menuturkan, 19 kasus itu tersebar di 11 kemantren.

Meliputi, Kemantren Mantrijeron, Mergangsan, Gondokusuman, Kotagede (2), Umbulharjo, Pakualaman (2), Gedongtengen (2), Ngampilan (2), Wirobrajan, Jetis (3), dan Tegalrejo (3).

"Sehingga, dari 14 kemantren di Kota Yogya, yang masih bebas dari kasus leptospirosis ada tiga, yaitu Kraton, Danurejan dan Gondomanan," tandasnya, Kamis (10/7/2025).

Adapun 6 pasien leptospirosis yang berujung meninggal dunia, berasal dari Pakualaman, Gedongtengen, Ngampilan (2), Wirobrajan dan Jetis.

Baca juga: Waspada! 5 Warga Bergejala Leptospirosis di Kota Yogyakarta Dilaporkan Meninggal Dunia

Lana memaparkan, kasus meninggal terakhir di Kemantren Jetis menimpa seorang pelajar berusia 17 tahun yang disinyalir karena terlambat mendapat penanganan medis.

"Gejala dirasakan sejak 30 Juni, itu sudah mulai demam. Kemudian, baru dibawa ke (rumah sakit) Bethesda Lempuyangwangi di tanggal 7 Juli," ungkapnya.

"Karena di sana tidak ada fasilitas cuci darah, akhirnya dirujuk ke Bethesda besar, tapi besok paginya meninggal. Jadi sudah ada gagal ginjal. Ngga sempat tertangani," urai Lana.

Ia pun mengakui, catatan 19 kasus leptospirosis di semester pertama, dengan 31 persennya meninggal dunia, menandakan peningkatan drastis dibanding tahun sebelumnya.

Bagaimana tidak, sepanjang 2024 lalu, Dinkes Kota Yogyakarta hanya mencatat 10 kasus dan 2 meninggal dunia, di wilayah Kemantren Mergangsan dan Gondokusukan. 

"Fatalitas (leptospirosis) memang cukup tinggi. Kalau diberikan obat yang tepat dan di saat yang tepat, itu memang bisa menolong," ungkapnya.

Hanya saja, ketika pasien dibiarkan dalam waktu yang relatif terlalu lama, bakteri yang sifatnya cepat masuk ke saluran urin akan bergegas menyerang ginjal.

Karena gejala yang dirasakan lebih kurang mirip dengan masuk angin atau demam biasa, banyak warga yang abai hingga akhirnya berujung pada gagal ginjal akut.

"Kalau misalkan segera ditangani dan membutuhkan cuci darah, setelah teratasi, pasien sembuh, dia sudah ngga butuh cuci darah lagi, hanya saat ada bakteri di dalam tubuh," cetusnya. (*)

 

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved