Cerita Ashadi Siregar yang Awalnya Ingin Jurnalis, Malah Jadi Novelis

Keinginan yang ia niatkan dengan sungguh-sungguh tak pernah terwujud, sementara dunia yang ia masuki tanpa rencana justru membawanya pada pengakuan

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Istimewa
80 TAHUN - Sastrawan dan tokoh pers, Ashadi Siregar, merayakan usia 80 tahun dalam perayaan Kampus Biru Menolak Ayah yang diselenggarakan oleh Sastra Bulan Purnama di IFI/LIP, Jalan Sagan 3 Yogyakarta, Sabtu (5/7/2025) malam 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sastrawan dan tokoh pers Ashadi Siregar mengungkapkan kisah tak terduga di balik awal mula dirinya menulis novel.

Dalam sebuah acara perayaan karya sastra 80 Tahun Ashadi Siregar: Kampus Biru Menolak Ayah, Ashadi menceritakan bahwa dunia fiksi yang kini melekat pada dirinya sebenarnya tidak pernah ia rencanakan dengan serius, termasuk ketika menulis novel populer Cintaku di Kampus Biru yang terbit pada 1972.

"Setiap kali kita merayakan novel, saya jadi teringat awal saya menulis. Itu sebenarnya kecelakaan saja," ujar Ashadi dalam perayaan yang digelar oleh Sastra Bulan Purnama untuk merayakan 80 tahun usia Ashadi di IFI/LIP, Jalan Sagan 3 Yogyakarta, Sabtu (5/7/2025) malam.

"Saya menulisnya tidak niat banget. Kog, tiba-tiba jadi begini ujung-ujungnya,” tambah dia membuat satu ruangan tertawa.

Ashadi mengaku, sepanjang hidupnya, niat terbesarnya justru adalah menjadi wartawan.

Namun, takdir berkata lain.

Keinginan yang ia niatkan dengan sungguh-sungguh tak pernah terwujud, sementara dunia yang ia masuki tanpa rencana justru membawanya pada pengakuan dan apresiasi.

"Yang diniati tak kesampaian, yang tidak diniati, malah dirayakan orang," ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Ashadi, latar belakang akademiknya membuatnya lebih akrab dengan fakta dan realitas, bukan fiksi.

Karena itu, dunia sastra bukanlah habitat aslinya.

"Saya baca fiksi itu seadanya saja. Untungnya tidak celaka. Jadi, saya bilang, ini adalah kecelakaan yang menyenangkan," katanya.

Selepas menulis Jentera Lepas di tahun 1982, Ashadi memilih fokus pada dunia jurnalistik, khususnya dalam mengembangkan pelatihan jurnalistik di era Orde Baru melalui Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y).

"Dalam dunia jurnalistik, saya ingin memikirkan bagaimana mengenali fakta sedalam dan seluas mungkin, mendeskripsikannya dengan kuat, dan membayangkan praktik jurnalisme yang terbaik," ungkapnya.

Meski dikenal sebagai novelis, Ashadi Siregar lebih memilih mengenang dunia kepenulisannya sebagai hasil dari peristiwa tak terduga.

"Karena itu satu kecelakaan kemudian orang menerimanya, ya sudah saya jalani juga," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved