Seperti Apa Timur Tengah Setelah Perang Israel-Iran Berhenti? 

IRAN menyerang pangkalan militer Al Udeid di dekat Doha Qatar. Ini adalah pusat komando militer Pentagon di Timur Tengah.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Hari Susmayanti
khaberni/tangkap layar
TAK ADA RADIASI - Gambar fasilitas pengayaan nuklir Fordow, Iran yang diserang Amerika Serikat (AS), Minggu (22/6/2025). Iran menyatakan, tak ada kebocoran radiasi dampak dari serangan tersebut. Material pengayaan nuklir juga sudah diamankan lebih dulu sehingga serangan AS tidak akan membuat aktivitas pengayaan nuklir berhenti. 

IRAN menyerang pangkalan militer Al Udeid di dekat Doha Qatar. Ini adalah pusat komando militer Pentagon di Timur Tengah.

Selain digunakan Amerika, pangkalan yang sama juga dipakai  Inggris dan Turki sebagai pijakan kaki mereka di kawasan Teluk.

Diperkirakan ada 12 rudal balistik ditembakkan Teheran pada Senin malam 23 Juni 2025, yang sebagian besar dicegat sistem pertahanan udara Qatar.

Seiring serangan rudal Iran ke Qatar, roket dan drone Kamikaze menyasar pangkalan-pangkalan Amerika di Irak, yaitu mulai Taji, Salahudin, Balad, Talal Air Base di Nasiriyah, Ain al-Assad di Provinsi Anbar, dan Victoria Base di barat Baghdad.

Sesaat sebelumnya, Israel menggelar serangan besar ke Teheran dan sejumlah wilayah lain di Iran, sejak perang dimulai 13 Juni 2025. 

Rudal-rudal Iran gantian menghajar target di Tel Aviv, Negev, dan Haifa, meninggalkan kerusakan hebat bangunan di sejumlah lokasi yang dihantam ledakan.  

Sepanjang rangkaian silih serang inilah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel.

Gencatan senjata menurut Trump mulai berlaku pukul 07.00 waktu Israel, Selasa 24 Juni 2025. 

Perdana Menteri IsraeL Benyamin Netanyahu dalam pernyataan resmi kantornya menyetujui pengumuman Trump. 

Israel menganggap telah mencapai tujuan utama agresinya ke Iran, yaitu menetralkan potensi ancaman eksistensial nuklir dan rudal Iran.

Namun begitu, Israel menyatakan akan menanggapi secara keras setiap pelanggaran atas gencatan senjata yang dideklarasikan dari Washington.  

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghci yang kemarin bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, menolak gencatan senjata versi Trump.

Tetapi dalam pernyataannya yang ditulis di akun X, Arraghci menyebutkan, Iran akan berhenti menyerang jika Israel menghentikan gempurannya.

Iran menganggap Israel yang memulai perang pada 13 Juni 2025. Karena itu, Teheran akan melanjutkan perlawanan sampai entitas zonis Israel bisa dilenyapkan.

Apa yang bisa dijelaskan dari perkembangan ini? Benarkah Israel dan Iran akan berhenti berperang? Seperti apa situasi Timur Tengah setelah ini? 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved