Akademisi Kritik Raperda Tambang 2025: Tidak Ada Batas Jelas Keterlibatan Warga
RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel menyatakan dukungannya terhadap suara kekhawatiran para akademisi.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
“Kami dari Bebadan Pangreksa Loka telah berdiskusi dengan para akademisi. Ini adalah bentuk kekhawatiran bersama. Raperda ini harus selaras dengan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta,” ujar Marrel.
Sebagai Wakil Ketua DPD Gerindra DIY, ia juga menegaskan akan mengawal proses penyusunan Raperda agar tetap berpijak pada filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Ngarsa Dalem sudah dawuh agar Raperda ini sejalan dengan falsafah Jawa, Memayu Hayuning Bawana. Bahkan sebelumnya kami juga berdiskusi dengan Gusti Mangku, dan beliau berpesan agar pertambangan di DIY ditata dengan bijak dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, DPRD, maupun pemangku kepentingan lainny agar mengedepankan kepentingan lingkungan dan masyarakat dalam setiap kebijakan pertambangan.
“Falsafah kita jelas, memayu hayuning Bawana, atau menjaga dan memperindah bumi. Itu yang harus kita pegang bersama,” tutup Marrel. (*)
| Buntut Kasus Little Aresha, Pemkot Yogya Godok Aturan Standar Kompetensi Pengasuh Anak di Raperda |
|
|---|
| Dukung Gelar Pahlawan Nasional untuk Sri Sultan HB II, Ulama DIY Soroti Sikap Anti-Kolonialisme |
|
|---|
| Wakil Ketua DPRD Kota Yogyakarta Berikan Catatan Soal Raperda KLA: Keluarga Harus Jadi Pilar Utama |
|
|---|
| Akademisi UAJY Soroti Penundaan Vonis Dua Kasus Korupsi di Sleman |
|
|---|
| Kritik Dibalas Laporan: Fenomena 'Legalisme Otokratik' di Era Rezim Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Akademisi-kritisi-raperda-tambang-kepada-Kepala-Bebadan-Pangreksa-Loka.jpg)