Tiga Siswa Gunungkidul Mengundurkan Diri dari Seleksi Program Sekolah Rakyat
Alasan para siswa tersebut mengundurkan diri dari seleksi Sekolah Rakyat karena memilih untuk bersekolah di sekolah umum.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sebanyak tiga orang siswa dari Kabupaten Gunungkidul mengundurkan diri dari seleksi program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Koordinator Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Gunungkidul, Herjun Pengaribowo, mengatakan alasan para siswa tersebut mengundurkan diri karena memilih untuk bersekolah di sekolah umum.
"Mereka berubah pikiran, memilih untuk sekolah di SMA dan SMK reguler saja, biar dekat dengan teman-temanya, karena kan kalau di Sekolah Rakyat nanti mereka tinggalnya harus di asrama" ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (12/6/2025).
Ia mengatakan ketiga siswa tersebut sudah mengikuti rangkaian tes untuk masuk program Sekolah Rakyat, yang digelar pada 30 April 2025-17 Mei 2025 lalu.
"Mereka sudah melewati beberapa tes, sudah sampai tahap home visit dan wawancara juga, namun di tengah tes tersebut, mereka memilih mengundurkan diri," terang dia.
Herjun mengatakan sedianya sebanyak 77 siswa dari Kabupaten Gunungkidul mendaftar di Sekolah Rakyat, dengan rincian sebanyak 12 anak mendaftar di Balai Terpadu dr. Soeharso Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Dan, 55 anak mendaftar diBalai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Purwomartani, Kalasan, Sleman.
"Namun, karena ada yang mengundurkan diri berarti tersisa 74 siswa lagi," ucapnya.
Baca juga: Dinkes Gunungkidul Segera Terbitkan SE Kesiapsiagaan Covid-19
Ia melanjutkan saat ini penerimaan murid baru di Sekolah Rakyat, memasuki tahap penetapan calon siswa (Casis) dari Gubernur DIY.
Di mana jadwal ini mundur, dari yang seharusnya pengumuman dilaksanakan pada akhir Mei lalu.
"Memang terjadi pengunduran jadwal, mulanya kan SK Gubernur itu dilakukan diawal namun karena ada perubahan alur pendaftaran, jadi SK Gubernur itu dilakukan di tahap akhir, sebelum tes kesehatan. Jadi, ada perubahan dan penyesuaian alur pendaftarannya," terang dia.
Ia menjelaskan penerimaan siswa baru di sekolah rakyat ini meliputi beberapa tahapan muali dari, penetapan calon peserta didik oleh Pemda, seleksi administratif, home visit, wawancara, penetapan kelulusan peserta, pengumuman, pemanggilan masuk asrama, hingga resgitrasi ulang sebelum kegiatan pembelajaran.
"Rangkaian ini harus dilewati para calon siswa. Dan, kami sampaikan tidak semua siswa bisa lolos masuk ke Sekolah Rakyat, karena ada kuotanya jadi yang diterima itu tergantung dari hasil seleksi," paparnya.
Dia menuturkan jumlah pendaftar Sekolah Rakyat mencapai 700 orang se-DIY. Jumlah tersebut, melebih kuota yang disediakan sebanyak 275 siswa, dengan pembagian 200 siswa di Balai Terpadu dr. Soeharso Sonosewu dan 75 siswa di BBPPKS Purwomartani, Kalasan, Sleman.
"Jadi, jumlah pendaftarnya itu tiga kali dari kuota. Makanya, nanti tidak semua siswa bisa diterima," ucapnya.
| Tragedi Jumat Petang, Pelajar SMP di Bogor Tewas Dalam Tawuran Berdarah |
|
|---|
| Sempat Dilaporkan Hilang, Satu Siswa SMP di Jogja Kini Dalam Pengawasan Lembaga Perlindungan Anak |
|
|---|
| Kejar Target Tahun Ajaran Baru, Satker Tambah Personel Percepat Proyek Sekolah Rakyat di Gulurejo |
|
|---|
| Dinsos Kulon Progo Kebut Amdal, Pembangunan Sekolah Rakyat Lendah Ditargetkan Selesai Awal Juni |
|
|---|
| Jatah MBG ke Pelajar Kulon Progo Mulai Didistribusikan untuk 5 Hari dalam Sepekan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pendaftar-Sekolah-Rakyat-Yogyakarta-Tembus-700-Anak.jpg)