Misi Wali Kota dan Wakil Wali Yogyakarta Saat Pemkot Jogja Menapak Usia 78 Tahun

tatanan birokrasi yang revolusioner jadi misi Wali Kota dan Wakil Wali Yogyakarta, Hasto Wardoyo-Wawan Harmawan.

|
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Iwan Al Khasni
DOK. visitingjogja.jogjaprov.go.id
Tugu Pal Putih Jogja ikon Kota Jogja 

Tribunjogja.com Jogja -- Mewujudkan sebuah tatanan birokrasi yang revolusioner jadi misi Wali Kota dan Wakil Wali Yogyakarta, Hasto Wardoyo-Wawan Harmawan.

Bukan tanpa alasan, di usia Pemkot Yogyakarta yang sudah menapak 78 tahun, inovasi saja tidak akan cukup untuk memuaskan publik.

Hasto mengungkapkan, seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Yogyakarta wajib mengubah mindset atau pola pikir.

Cara-cara kerja dengan sistem hands on, yang melibatkan tindakan secara langsung, harus bisa diterapkan dalam melayani warga.

"Pejabat jangan terlalu sering mendelgasikan. Kalau ada hal-hal yang penting, ya upayakan hands on," tandas Hasto, Minggu (8/6/2025).

Menurutnya, pola-pola yang disebutnya sebagai 'bergaya bos' itu, seringkali membuat publik kecewa dan mengakibatkan masalah berkepanjangan.

Pria berlatar belakang dokter spesialis kandungan tersebut, berkaca pada cara yang digunakannya dalam menangani pasien.

"Kalau saya tidak pegang pasiennya langsung, hanya mendapat laporan dari bidan, dari perawat, itu beda sekali hasilnya," terangnya.

Oleh sebab itu, ia meminta seluruh jajarannya untuk menghayati tema besar HUT ke-78 Pemkot Yogya; lebih cepat, lebih dekat, dan maju melesat.

Gebrakaan yang sifatnya revolusioner pun wajib dihadirkan, sehingga dampak kehadiran pemerintah bisa dirasakan secara langsung.

"Ingat, inovasi saja tidak cukup. Kita harus melakukan sesuatu yang sifatnya revolusioner. Kalau inovasi itu, hanya hal yang biasa," cetusnya

"Tapi, kalau revolusioner, itu mengubah mindset, menjebol tatanan. Harapan saya, masing-masing unit kerja ada pemikiran ke arah sana, tentu dalam payung undang-undang," imbuh Hasto.

Pada usia 78 tahun ini, Wali Kota juga meminta seluruh aparatur Pemkot Yogyakarta untuk merenungkan kiprahnya sebagai pelayan masyarakat.

Dalam artian, apakah selama menduduki jabatan sudah menghasilkan daya ungkit untuk kemajuan daerah dan kemaslahatan penduduk.

"Pejabat harus gelisah. Bayangkan, seandainya yang duduk di jabatan ini bukan kita, jangan-jangan kemajuannya bisa lebih cepat. Kita harus merenung supaya tidak merasa hebat," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved