Biofuel Bikin Performa Mesin Lebih Optimal dan Ramah Lingkungan
Indonesia dinilai sudah saatnya memasuki era baru dalam transisi energi bersih.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Indonesia dinilai sudah saatnya memasuki era baru dalam transisi energi bersih. Salah satunya dengan penyediaan biofuel, bahan bakar berbasis campuran bahan nabati berupa bioetanol.
Selain ramah lingkungan, biofuel juga dinilai memberi dampak langsung terhadap efisiensi dan kinerja mesin.
Menurut Agus Purwadi, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), campuran bioetanol dalam bahan bakar memiliki keunggulan teknis yang signifikan.
“Bioetanol memiliki angka oktan tinggi, sehingga proses pembakaran di ruang mesin menjadi lebih sempurna. Hasilnya, mesin bekerja lebih optimal dan respons kendaraan lebih baik,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Kamis (22/5/2025).
Ia menambahkan, pembakaran yang lebih bersih tidak hanya menurunkan emisi gas buang, tetapi juga mengurangi penumpukan karbon di ruang mesin, yang berdampak pada usia pakai kendaraan.
“Mesin jadi lebih bersih, pembakaran lebih efisien, dan secara keseluruhan, performa kendaraan meningkat,” jelasnya.
Sejumlah produsen otomotif telah merespons tren ini dengan teknologi mesin yang kompatibel terhadap biofuel.
Baca juga: 25 Negara dengan Populasi Penduduk Terbanyak di Dunia, Indonesia Salah Satunya!
Salah satunya adalah PT TMMIN yang sudah memproduksi flexy engine, bahkan untuk pasar ekspor seperti Brasil—negara yang sangat maju dalam pemanfaatan biofuel.
Meski begitu, Agus mengingatkan pentingnya memastikan pasokan bioetanol tetap berkelanjutan dan tidak mengganggu sektor pangan.
Namun secara teknologi, ia menilai mesin-mesin modern saat ini sudah sangat siap untuk bahan bakar campuran seperti ini.
“Kalau ditanya apakah biofuel ini sekadar ramah lingkungan? Tidak. Ini juga tentang efisiensi dan performa. Dan itu langsung terasa oleh pengguna kendaraan,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi energi, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai pengembangan biofuel adalah langkah realistis di tengah cadangan minyak bumi nasional yang kian menipis.
“Minyak bumi itu tidak terbarukan, sementara konsumsi energi terus meningkat. Biofuel menjadi solusi antara yang paling masuk akal,” ujarnya.
Ia menilai, meski kandungan bioetanol masih kecil, ini adalah pintu masuk penting untuk membangun kesadaran publik soal energi bersih.
Indonesia, menurutnya, memiliki potensi besar bahan baku biofuel dari tebu, singkong, kelapa sawit, hingga tanaman energi lainnya.
Namun, tantangan besar justru terletak pada penguasaan teknologi.
“Kalau kita ingin swasembada energi, investasi dalam riset dan teknologi tidak bisa ditunda,” tegas Fahmy.
Ia mengingatkan, proyek kerja sama dengan perusahaan energi Italia, ENI, sempat gagal karena kendala penguasaan teknologi biodiesel 100 persen dari minyak nabati.
“Pemerintah harus menjadi motor. Riset, hilirisasi bahan baku lokal, dan dukungan terhadap inovasi harus dipercepat,” tambahnya.
Meskipun harga bioetanol masih relatif tinggi dan pasokannya terbatas, baik Agus maupun Fahmy sepakat bahwa inisiatif ini bukan hanya memperbaiki kualitas BBM nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri otomotif Indonesia.
“Biofuel adalah jembatan menuju masa depan energi yang lebih bersih, mandiri, dan efisien,” pungkas Fahmy.
| Siasati Gejolak Global, Perusahaan Migas di Indonesia Pastikan Suplai Migas Tetap Aman |
|
|---|
| Lega Sampai Akhir Tahun, Masyarakat dan Pengusaha Sempat Waswas Harga BBM Naik |
|
|---|
| Mobil Dinas Wali Kota Yogyakarta Ikut Terdampak Plafonisasi, Cuma Dijatah BBM 5 Liter Per Hari |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Terapkan WFH Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Jatah BBM Kendaraan Dinas Dibatasi |
|
|---|
| Wali Kota Yogyakarta Siapkan Skenario Hemat BBM: Mobil Dinas Dijatah 5 Liter, Motor 1 Liter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Biofuel-Bikin-Performa-Mesin-Lebih-Optimal-dan-Ramah-Lingkungan.jpg)