Gunungkidul Gelar Kegiatan 'Ngguyang Sapi Neng Tlogo' atau Mandikan Sapi ke Telaga, Ini Tujuannya
Ngguyang Sapi Neng Tlogo memiliki arti memandikan sapi ke dalam telaga dengan makna tersirat membersihkan sapi-sapi agar terhindar dari penyakit
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar kegiatan Ngguyang Sapi Neng Tlogo “Nggayuh Prayogo” di Telaga Ploso, Padukuhan Poloso, Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, pada Jumat (25/4/2025).
Adapun, Ngguyang Sapi Neng Tlogo memiliki arti memandikan sapi ke dalam telaga dengan makna tersirat membersihkan sapi-sapi agar terhindar dari penyakit berbahaya.
Bupati Gunungkidul menyampaikan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap maraknya penyakit pada ternak sapi di wilayah Gunungkidul, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), antraks, dan lato-lato.
“Kunci dari sapi yang sehat adalah kebersihan kandang dan tubuh sapi itu sendiri. Maka kami canangkan Gerakan Bersih Kandang (GBK) serta gerakan mengguyur sapi,” jelas Bupati di sela acara tersebut.
Menurutnya, kegiatan mengguyur sapi memiliki dua manfaat yakni menjaga kebersihan dan kesejahteraan hewan, serta mendorong peternak untuk merawat lingkungan kandang mereka.
"Melalui kegiatan ini sekaligus menjadi sarana revitalisasi telaga-telaga di Gunungkidul, seperti Telaga Ploso yang diketahui tak pernah mengalami kekeringan sepanjang tahun," tutur dia.
Dia menjelaskan kegiatan Ngguyang Sapi Neng Tlogo “Nggayuh Prayogo” tidak hanya digelar di Telaga Ploso saja. Melainkan, ada 20 telaga di Gunungkidul yang akan digelar kegiatan ini. Puluhan telaga itu dipilih karena airnya tidak pernah surut.
Serta, kawasan ini juga dikenal sebagai kantong ternak dengan 270 Kepala Keluarga, 230 di antaranya memelihara sapi. Bupati menegaskan bahwa daerah-daerah dengan potensi ternak tinggi seperti ini akan menjadi prioritas untuk diintervensi oleh Dinas Peternakan.
"Dengan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat, kegiatan ini menjadi bukti nyata keseriusan Pemkab Gunungkidul dalam membangun ketahanan pangan, menjaga kesehatan hewan, serta mendukung ekonomi desa secara berkelanjutan," paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, menambahkan kegiatan ini juga merupakan bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman penyakit menular pada hewan. Menurutnya, pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
"Kami telah menandatangani Peraturan Bupati Nomor 10 Tahun 2025 tentang pemberian tali asih bagi peternak yang sapinya mati akibat penyakit seperti LSD, antraks, atau PMK,” jelasnya.
Selain itu, melalui Perbup tentang pengamanan hewan strategis, peternak diwajibkan mengizinkan ternaknya divaksin.
Tanpa vaksinasi, Surat Keterangan Kesehatan Hewan tidak dapat dikeluarkan, sehingga sapi tidak dapat dikirim ke luar daerah.
"Hingga saat ini, Dinas Peternakan telah melakukan vaksinasi gratis sebanyak hampir 6.000 dosis, pemberian vitamin sebanyak 3.500 dosis, serta obat cacing untuk hampir 2.000 ekor sapi.Ini adalah bentuk intervensi pemerintah dalam menjaga kesehatan ternak rakyat, apalagi sebentar lagi akan memasuki momentum Hari Raya Iduladha,” tandasnya (ndg)
| Polres Bantul Selidiki Asal-usul Pil Sapi yang Dikonsumsi Remaja Asal Magelang |
|
|---|
| Viral Remaja Konsumsi Pil Sapi dan Curi Sepeda di Sewon Bantul, Begini Nasibnya |
|
|---|
| Sultan Minta Pemkab Gunungkidul Kembangkan Kawasan Utara dan Timur, Jangan Fokus di Pesisir Selatan |
|
|---|
| Pesan Sri Sultan HB X saat Menghadiri Silaturahmi Idulfitri Bersama Masyarakat Gunungkidul |
|
|---|
| Kasus Kematian Akibat Leptospirosis di Gunungkidul Naik 500 Persen di Awal 2026 Ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Gunungkidul-Gelar-Kegiatan-Ngguyang-Sapi-Neng-Tlogo-atau-Mandikan-Sapi-ke-Telaga-Ini-Tujuannya.jpg)