Guru Jadi Ujung Tombak Perkuat Edukasi soal Geopark Jogja, Dimulai dari MPLS

Agnes menegaskan materi Geopark Jogja tidak berdiri sebagai kurikulum khusus, namun akan diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
PENYEGARAN GURU: Suasana penyegaran (refresh) materi Geopark Jogja bagi para guru yang tergabung sebagai edukator di Ruang Rapat Biro PIWP2 Unit 1 Lantai 3, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (28/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pemda DIY memperkuat edukasi Geopark Jogja dengan melibatkan guru sebagai ujung tombak.
  • Materi geopark diintegrasikan dalam MPLS dan pelajaran seperti geografi serta sejarah.
  • Edukasi ini bagian dari strategi pembangunan daerah, mencakup konservasi dan pemberdayaan masyarakat.
  • Setelah ditetapkan sebagai geopark nasional, DIY menargetkan pengakuan UNESCO Global Geopark.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah DIY terus memperkuat edukasi Geopark Jogja dengan menempatkan guru sebagai ujung tombak penyampaian pengetahuan kepada generasi muda.

Upaya ini dimulai melalui kegiatan penyegaran materi bagi para edukator yang akan mengintegrasikan pemahaman geopark dalam pembelajaran, terutama saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Bangun kesadaran siswa soal geopark Jogja

Kepala Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWP2) Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran siswa terhadap kekayaan geologi Yogyakarta.

“Kami sengaja mengumpulkan guru-guru, khususnya dari bidang geografi, agar memiliki pemahaman yang sama dan lebih kuat terkait Geopark Jogja. Harapannya, ini bisa menjadi pijakan awal untuk edukasi kepada anak didik kita, sehingga mereka memahami bahwa wilayah tempat tinggalnya memiliki warisan geologi yang luar biasa,” ujarnya pada Tribun Jogja di Kompleks Kepatihan, Selasa (28/4/2026).

Menurut Agnes, pemahaman tersebut penting tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai dasar untuk menumbuhkan kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan.

“Bagaimana anak didik kita bisa mengetahui bahwa mereka hidup di bumi dengan kekayaan yang sangat besar, kalau tidak kita kenalkan sejak awal? Dari situlah muncul kesadaran untuk ikut melestarikan, sekaligus memanfaatkan secara bijak agar memberikan kemanfaatan bagi masyarakat luas,” katanya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini bukan yang pertama dilakukan, melainkan kelanjutan dari program sebelumnya yang terus diperbarui melalui diskusi dan brainstorming.

“Kami sudah mulai sejak tahun lalu, dan sekarang kita perkuat lagi. Ini bagian dari proses penyempurnaan, supaya materi yang disampaikan nanti benar-benar relevan dan bisa diterima oleh siswa, khususnya saat mereka pertama kali masuk sekolah,” ungkapnya.

Materi Geopark Jogja di sekolah 

Terkait implementasi di sekolah, Agnes menegaskan bahwa materi Geopark Jogja memang tidak berdiri sebagai kurikulum khusus, namun akan diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran.

“Memang tidak masuk sebagai kurikulum tersendiri, tetapi bisa dimasukkan sebagai pengayaan dalam pelajaran seperti geografi dan sejarah. Selain itu, MPLS menjadi momentum awal untuk mengenalkan konsep ini kepada siswa baru,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa edukasi geopark merupakan bagian dari strategi besar pembangunan daerah, yang tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.

“Geopark ini bukan hanya soal geologi, tetapi ada aspek edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Kita sudah berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan bahwa pola edukasi ini harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan,” tegasnya.

Agnes juga menyinggung langkah ke depan setelah DIY ditetapkan sebagai geopark nasional pada 7 Mei 2025, yakni mendorong pengakuan di tingkat global.

“Setelah penetapan sebagai geopark nasional, tahapan berikutnya adalah kita mencoba mengusulkan ke UNESCO Global Geopark. Untuk itu, pemahaman masyarakat, termasuk siswa, menjadi sangat penting karena geopark ini harus hidup dan didukung oleh lingkungannya,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved