Puisi

Makna Puisi Mazmur Mawar Karya W.S. Rendra

Simpati dalam puisi Rendra seringkali terhubung dengan isu-isu sosial dan politik yang relevan pada masanya, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan pe

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jateng
Gambar Foto Penyair WS Rendra 

TRIBUNJOGJA.COM - Simpati dalam puisi Rendra seringkali terhubung dengan isu-isu sosial dan politik yang relevan pada masanya, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan serta mengaitkan isu-isu tersebut dengan citra ketuhanan. 

Ia menggunakan puisinya sebagai medium untuk menyuarakan keprihatinan terhadap masalah-masalah tersebut.

Hal ini dapat ditemukan dalam puisinya yang berjudul “Mazmur Mawar”. 

Berikut isi dan makna puisi “Mazmur Mawar”: 


Isi Puisi “Mazmur Mawar”

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar
Kita muliakan Tuhan yang manis,
indah, dan penuh kasih sayang
Tuhan adalah serdadu yang tertembak
Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur
Tuhan berada di gang-gang gelap
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh
Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi
Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

Dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar
Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
menangis di tepi jalan.
Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
Para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, penganggur, dan peminta-minta
Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

 


Makna Puisi “Mazmur Mawar”

a. Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari dan Penderitaan

Puisi ini menawarkan pandangan yang tidak konvensional tentang Tuhan. Alih-alih sosok yang jauh dan transenden, Tuhan digambarkan hadir dalam realitas kehidupan sehari-hari, terutama dalam sosok-sosok yang menderita dan terpinggirkan. 

Tuhan dimuliakan bukan hanya dengan simbol-simbol keagamaan ("Nama Tuhan," "mawar"), tetapi juga melalui sifat-sifat kemanusiaan yang manis, indah, dan penuh kasih sayang. 

Namun, citra Tuhan kemudian bergeser menjadi sosok yang akrab dengan penderitaan: seorang serdadu yang terluka, seorang miskin tua di jalanan becek, seorang ayah yang sakit batuk, bahkan hadir di antara para pelacur dan penjahat. 

Penggambaran ini menekankan bahwa Tuhan tidak hanya berada di tempat-tempat suci, tetapi juga menyertai mereka yang terabaikan dan menderita.

b. Tuhan yang Merendah dan Akrab dengan Kehidupan Duniawi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved