Temuan Kerangka di Bantul

Kesaksian Sejumlah Warga Terkait Kasus Pembunuhan di Sabdodadi Bantul

Kasus dugaan pembunuhan itu terjadi sekitar bulan September 2024 dan baru terungkap pada Kamis (20/3/2025) sore

Tayang:
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
TKP PEMBUNUHAN - Sugiyono (32), pendatang baru yang kos di rumah kejadian pembunuhan di Sabdodadi, Bantul, menunjukkan lokasi bau anyir, Jumat (21/3/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah warga di Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul, masih dibuat geger dengan kasus dugaan pembunuhan di sebuah tempat kos di wilayah tersebut. 

Kasus dugaan pembunuhan itu terjadi sekitar bulan September 2024 dan baru terungkap pada Kamis (20/3/2025) sore, setelah polisi setempat menerima laporan terkait adanya kasus tidak adanya kabar seorang perempuan yang kini menjadi korban dugaan pembunuhan tersebut.

Adapun identitas pelaku tersebut adalah MRR (24), warga Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, sedangkan korban adalah EDP (23), warga Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Utomo (65), warga setempat yang tinggal di dekat lokasi kejadian masih tidak menyangka ada kasus tragis di dekat rumahnya.

Bahkan ia sendiri mengaku tidak mencium bau busuk selama beberapa waktu terakhir.

"Selama ini saya enggak mencium bau busuk. Padahal rumah saya sama rumah lokasi kejadian ya jarak berapa meter lah. Paling sekitar 100-an meter jaraknya," katanya saat dijumpai di dekat lokasi kejadian pembunuhan di Kalurahan Sabdodadi.

Ia pun mengaku tidak mengenal dekat dengan pelaku.

Pasalnya, selama ini pelaku bersama ibu pelaku hanya mengontrak atau kos di tempat kejadian perkara dan jarang saling menyapa warga setempat.

"Ya pelaku itu kalau ketemu sama saya juga jarang sapa-sapa. Kalau ketemu ya cuma ketemu pas lewat di jalannan depan rumah itu aja," ucap dia.

Utomo turut menjelaskan bahwa kontrakan itu sebenarnya adalah rumah yang berisi beberapa kamar dan pemilik kontrakan itu tinggal di Jakarta.

Lalu, pelaku dan ibu pelaku kos di tempat kejadian perkara (TKP) sekitar setahun setelah itu sekitar sebulan terakhir kos dihuni oleh orang lain.

"Yang pakai kos-kosan itu masih baru. Itu orang baru. Baru sebulan kayaknya," jelasnya.

Baca juga: BREAKING NEWS : Temuan Kerangka di Indekos di Bantul, Diduga Korban Pembunuhan Sang Pacar

Sugiyono (32), pendatang baru yang kos di rumah tempat kejadian, mengaku baru sekitar lebih dari sebulan tinggal di lokasi tersebut.

Saat ia pindah, kos tersebut sudah kosong atau tidak ada penghuni.

"Saya masuk (mulai tinggal di kos) itu, pelaku sudah enggak kos di sini. Jadi enggak ketemu pelaku," tuturnya.

Saat tinggal di TKP, ia mengaku kerap mencium bau tidak sedap.

Saat dicari sumber bau tersebut, kata Sugiyono bersumber dari salah satu kamar kos yang tertutup, namun tidak ada barang maupun penghuni.  

"Ya selama tinggal di sini itu, saya ada cium bau dari salah satu kamar kos. Baunya itu aneh. Baunya kayak anyir-anyir, apek, enggak sedep gitu lah. Ya kayak bau daging busuk gitu lah," katanya.

Ditambahkan, saat di cek di salah satu kamar kos yang tercium bau tidak sedap itu hanya terlihat kotor seperti ada dinding terkena jamur. 

"Sebelum kos di sini, saya sudah survei. Ya lumayan oke. Tapi saya enggak tau, kok (tiba-tiba pas ditempati tercium) bau anyir," jelasnya.

ILUSTRASI: Saat ditemukan korban sudah dalam keadaan tinggal kerangka manusia atau tulang belulang dan terbungkus trashbag warna hitam di rumah pelaku
ILUSTRASI: Saat ditemukan korban sudah dalam keadaan tinggal kerangka manusia atau tulang belulang dan terbungkus trashbag warna hitam di rumah pelaku (freepik)

 

Akan tetapi, sampai saat ini, ia tidak pernah laporan kepada pemilik kos tersebut terkait adanya bau tak sedap di salah satu kamar.

Bahkan, sejauh ini, ia belum pernah mencoba untuk menghilangkan bau tersebut, karena merasa bingung bagian mana yang harus dibersihkan agar bau tersebut hilang.

"Kamar itu sempat ditempati juga. Waktu itu ada yang nginep terus tidur di sana. Dan ya selama ini kami enggak pernah diganggu kayak hal-hal mistis gitu. Jadi tidak ada curiga," jelasnya.

Sugiyono pun terkejut ketika ada polisi dan pihak-pihak terkait yang tiba-tiba datang ke lokasi tempat kos-kosannya dan meminta izin kepadanya untuk melakukan olah TKP.

"Jadi, saya baru tahu ketika kemarin sore ada pihak kepolisian datang ke sini mau minta izin buat olah TKP. Dari situ saya baru tahu kalau di sini pernah ada kejadian pembunuhan dan jadi tahu juga penyebab bau anyir itu apa," jelasya.

Sugiyono turut menjelaskan bahwa kos itu merupakan satu rumah yang berisi empat kamar dan satu kamar mandi tersebut ia sewa seharga Rp1 juta per bulan.

Ungkap Kasus

Kasi Humas Polres Bantul, AKP I Nengah Jeffry Prana, mengungkapkan, temuan kasus itu berawal dari adanya informasi hilang atau tidak adanya kabar seorang perempuan. 

"Dari situ polisi melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi bahwa perempuan itu punya pacar. Akhirnya, kami mendatangi rumah pacar. Saat didatangi, pacar korban langsung memberitahu kalau telah membunuh korban di sebuah kontrakan di Sabdodadi Bantul," bebernya.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Pembunuhan Wanita Muda oleh Kekasihnya di Sabdodadi Bantul, Ini Kata Polisi

Lalu, polisi mendapati informasi bahwa pelaku menyimpan kerangka manusia yang diinformasikan oleh pelaku bahwa itu adalah kerangka korban.

Dari situ, polisi langsung melakukan olah TKP dan kerangka tersebut sudah ada di rumah pelaku di Kapananewon Kretek.

"Jadi, kami olah TKP dan balik ke kontrakan di Sabdodadi. Karena sebelumnya pelaku dan ibu pelaku kontrak di sini. Setelah masa kontrak rumah itu habis, akhirnya mereka kembali ke Kretek," tuturnya.

Ditambahkan, saat ini pelaku sudah diamankan di Polres Bantul dan kerangka tubuh korban berada di RS Bhayangkara.

Bahkan, saat ini pihaknya sedang melakukan tes DNA kerangka korban dengan keluarga korban untuk memastikan kebenaran identitas kerangka tersebut. Sampai saat ini, hasil tes tersebut belum keluar.

Kronologi Pembunuhan

Dalam kesempatan itu, Jeffry turut menyampaikan kronologi pengungkapan kejadian pembunuhan.

Di mana, pelaku membunuh korban dengan cara mencekik setelah terlibat cek cok di TKP.

"Alasan dari pelaku. Saat itu, korban saat itu sedang memasak bakso. Terus dikarenakan ditinggal nyapu, jadi bakso itu gosong. Padahal pelaku saat itu sedang cuci piring dekat masakan bakso, sehingga pelaku seharusnya tahu kalau korban sedang memasak bakso," bebernya.

Karena gosong, akhirnya korban marah dan memukul pelaku menggunakan sapu sebanyak lima kali. Dari situ, pelaku mulai kesal dan akhirnya mencekik korban hingga tewas.

Korban bisa datang ke kontrakan pelaku karena korban dan pelaku menjalin hubungan alias pacaran.

Maka dari itu, korban kerap datang ke kontrakan pelaku.

"Setelah mencekik, jenazah korban masih di TKP. Lalu, karena kontrakan sudah habis. Akhirnya korban mengecek jenazah korban. Saat dicek, ternyata sudah tinggal tulang. Akhirnya, pelaku membawa tulang korban ke sebuah losmen di Kaliurang, Sleman," ungkapnya.

Saat berada di sebuah losmen itu, tulang korban dibersihkan oleh pelaku. Ketika sudah bersih, tulang korban dibawa pulang ke rumah pelaku di Kretek. 

"Saat ini, kami juga mendalami ibu pelaku, apakah ada keterlibatan terkait kasus dugaan pembunuhan ini. Karena, pelaku ini kan sama ibunya kontrak," tuturnya.

Lalu, selama ini barang-barang korban telah dijual oleh pelaku termasuk handphone korban. Namun, untuk nomor handphone korban masih dipakai oleh pelaku.

Demikian pula dengan kendaraan korban yang juga dipakai oleh pelaku untuk aktivitas sehari-hari. 

"Jadi, pelaku ini masih komunikasi sama keluarga dan teman-teman korban melalui chatting, seolah-olah itu yang membalas adalah korban. Ketika dihubungi melalui telepon atau video call, pelaku membalas kepada orang yang menghubungi itu, bahwa korban sedang sibuk," jelasnya.(*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved