Keracunan di Mlati dan Tempel Jadi Pelajaran, Ini Pesan Wabup Sleman Jelang Lebaran
Masyarakat maupun penyedia jasa boga diminta menyediakan makanan dengan memperhatikan kehigienisan.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Setelah satu bulan berpuasa dan merayakan hari raya, konsumsi masyarakat terhadap makanan meningkat. Bahkan beragam jenis makanan cenderung disantap.
Hal ini memicu potensi terjadinya kasus keracunan.
Sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sleman mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati.
Masyarakat maupun penyedia jasa boga diminta menyediakan makanan dengan memperhatikan kehigienisan.
"Kalau lebaran ini banyak masyarakat yang istilahnya wong Jowo, kalau nggak nyaguh nggak enak. Mohon ini diperhatikan. Mengingat, kemarin ada kasus keracunan makanan di Sleman. Jadi ini butuh kewaspadaan," kata Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, Kamis (20/3/2025).
Danang mengimbau bukan tanpa alasan. Pasalnya, beberapa waktu lalu kasus keracunan makanan di Sleman terjadi di dua tempat yaitu di Mlati dan Tempel.
Di wilayah Tempel, keracunan dari hidangan hajatan ini menyebabkan ratusan orang harus mendapatkan perawatan.
Ada yang dirawat di rumah dan banyak juga yang harus dilarikan ke rumah sakit. Karena jumlah korban cukup banyak, kasus keracunan tersebut ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pengobatan pasien ditanggung Pemerintah Kabupaten. Menurut Danang, kejadian tersebut menjadi pengingat.
Apalagi di masa libur lebaran, potensi kuliner di Kabupaten Sleman diprediksi terkerek naik seiring peningkatan kunjungan wisatawan yang datang.
"Makanya kami pesen, pada masyarakat siapapun, masyarakat umum, penyedia jasa boga, untuk memperhatikan kehigienisan makanan. Jangan sampai kasus keracunan terjadi lagi," kata dia.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Cahya Purnama mengatakan selama cuti bersama lebaran, pihaknya beserta fasilitas layanan kesehatan akan meningkatkan kesiapsiagaan sumberdaya pelayanan mulai tanggal 27 Maret - 7 April 2025.
Puskemas rawat inap dipastikan tetap buka 24 jam. Sedangkan puskemas non rawat inap buka pukul 07.30 - 19.00.
Di luar jam kerja ada jadwal piket, yang terdiri dari dokter, bidan atau perawat, tenaga administrasi dan sopir ambulans.
"Puskemas siap sedia memberikan pertolongan pertama pada penyakit dan korban kecelakaan. Ambulan dan pengemudinya juga siap siaga 24 jam yang bisa digunakan untuk rujukan maupun untuk bantuan evakuasi korban kecelakaan jika diperlukan," katanya.(*)
| Sleman Godok Rencana WFH 25 Persen bagi Pegawai Non-Struktural |
|
|---|
| Optimalkan Data Desa, Tiga Kalurahan di Tempel Sleman Dicanangkan Jadi Desa Cantik |
|
|---|
| Sisi Kanan Pertahanan Jadi Titik Rawan, PSS Sleman Coba Beberapa Opsi Pemain |
|
|---|
| 1.516 Jemaah Calon Haji Sleman Mulai Diberangkatkan 21 April Lewat Bandara YIA |
|
|---|
| Viral, Excavator Masuk Tenda Hajatan di Banyurejo Sleman, Begini Ceritanya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Digelar-4-HariPasar-Lebaran-di-Sleman-Bukukan-Omset-Rp150-Juta.jpg)