Cerita Dua Alumni UGM yang Berhasil Jelajah Antartika, Alami Cuaca Ekstrem dan Badai

Gerry datang ke Antartika sebagai bagian dari misi Russian Antarctica Expedition (RAE) yang berlangsung selama Februari—Juli 2024.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Gerry Utama, alumni Fakultas Geografi UGM di Antartika selama Februari - Juli 2024 

Ia melakukannya dengan menyederhanakan variabel-variabel yang ada menjadi pemetaan geomorfologi yang dapat diimplementasikan dengan karakteristik khusus.

Temukan fosil

Selain itu, Gerry dan tim juga menemukan sebuah fosil kayu berusia 130 juta tahun.

“Hal ini bisa membuktikan bahwa dulunya Antartika pernah ditutupi tanaman hijau seperti bagian bumi lainnya,” kata alumnus prodi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Fakultas Geografi UGM ini.

Kondisi Antartika yang tidak menentu membuat jadwal pekerjaan harus diatur sedemikian rupa.

Menurut Gerry, jam mandi diatur. Kemudian, jam setiap hari direset, artinya jam pada hari tersebut dapat maju lebih awal atau mundur. Begitu juga dengan arah kiblat yang dapat berganti setiap harinya, tambah Gerry.

Kondisi ini, menurutnya, dapat diperparah dengan kondisi angin kencang yang bisa sampai 300 km/jam sehingga tidak jarang, ia dan timnya harus bermalam di stasiun.

Reaksi gatal

Tantangan di Antartika juga turut dialami oleh Dr. Nugroho Imam Setiawan. Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM tersebut pernah menjelajah Antartika pada bulan November 2016 hingga Maret 2017.

Ia mengaku tubuhnya merasakan gatal-gatal setiap saat sehingga ia harus meminum obat setiap harinya untuk mencegah reaksi tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya penghangat di tenda dan kewajiban untuk harus menggunakan pakaian tiga lapis setiap saat. “Apalagi kami tidak bisa mandi,” canda Nugroho. 

Bahkan, feses yang diproduksi harus dibawa pulang sebab kondisi suhu yang ekstrim membuat bakteri pengurai kotoran tidak dapat hidup. Nantinya, feses ini dibawa kembali dan akan dibakar di kapal. 

Nugroho awalnya tidak pernah berpikir dirinya akan menginjakkan kakinya di benua paling selatan di Bumi. Kisahnya dimulai saat ia menempuh kuliah S3 di Jepang pada tahun 2010.

Jepang merupakan salah satu negara yang rutin mengadakan ekspedisi dan mengajak peneliti asal Asia lainnya ke Antartika melalui lembaga Japan Antarctic Research Expedition (JARE).

Nugroho sudah mendaftar program tersebut pada tahun 2011, tetapi program tersebut dibatalkan sebagai imbas tsunami yang melanda Jepang pada Maret 2011.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved