Cerita Dua Alumni UGM yang Berhasil Jelajah Antartika, Alami Cuaca Ekstrem dan Badai
Gerry datang ke Antartika sebagai bagian dari misi Russian Antarctica Expedition (RAE) yang berlangsung selama Februari—Juli 2024.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
“Saya saat itu sudah mendaftar, tetapi program ditutup dan dananya dialihkan untuk pemulihan pasca tsunami,” ujar Nugroho.
Ia baru dihubungi kembali pada 2015 saat ia telah menyelesaikan program doktor dan dengan segera Nugroho mengikuti tahap seleksi berupa wawancara dan pemeriksaan kesehatan.
Dia kemudian bergabung bersama lima orang peneliti Jepang dan dua orang lainnya dari Mongolia dan Thailand.
Menjadi peneliti di Antartika berarti harus mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Hal ini juga harus dilewati oleh Nugroho.
Kondisi antartika
Selama sebulan, ia harus mengikuti pelatihan insentif seperti cara penggunaan peralatan di salju, tata cara berpakaian, pelatihan bertahan hidup di kondisi darurat, pendirian tenda, cara memasak dan buang air.
Kondisi Antartika dapat dibilang jauh berbeda daripada kondisi belahan dunia manapun.
Nugroho mengenang Antartika sebagai bukan bagian dari bumi sebab kondisinya yang putih bersih sejauh mata memandang.
“Saya saat itu bergabung dengan delapan orang dalam tim geologi. Saat itu, Antartika sedang musim panas sehingga matahari bersinar 24 jam setiap harinya, sedangkan suhu udaranya berkisar -5 derajat di malam hari dan -2 derajat di siang hari,” kenang Nugroho.
Selain itu, kekosongan suara membuat suasana menjadi hening. Ia mengingat saat itu hanya ada suara ia dan timnya serta bunyi-bunyian es yang mulai mencair sebab perubahan iklim, sesekali bertemu dengan penguin dan anjing laut Weddell.
Keseluruhan tim JARE 58 saat itu terdiri atas 80 anggota dan 35 orang di antaranya merupakan peneliti.
Penelitian saat itu dibagi dalam sepuluh topik, antara lain meteorologi, atmosfer, biologi terestrial, oseanografi, geofisika, geodesi, dan geologi.
Proses penelitian berlangsung selama empat bulan pada 27 November 2016 hingga 22 Maret 2017. Akan tetapi, menurutnya, waktu penelitian hanya dapat berjalan efektif selama 30 hari.
Hal ini sebab cuaca di lokasi penelitian sangat ekstrim dan sering terjadi badai angin sehingga tidak jarang tim peneliti harus menunggu cuacanya membaik.
Nugroho menjelaskan setiap harinya tim geologi menjalankan rutinitas mengumpulkan sampel batuan metamorf di setiap lokasi penelitian.
| Volume Penumpang Daop 6 Yogyakarta Tembus 3,3 Juta pada Triwulan I 2026 |
|
|---|
| Cek Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Jumat 10 April 2026 dari Stasiun Tugu |
|
|---|
| Jamu PSM Makassar, Sejumlah Pemain PSIM Yogyakarta Masih Absen, Rahmatsho Kembali ke Skuad |
|
|---|
| Jadwal KRL Jogja Solo Hari Jumat 10 April 2026 dari Stasiun Tugu Jogja |
|
|---|
| Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Apresiasi Kenaikan PAD Jogja Rp1 Triliun, Dorong Rekonsolidasi Fiskal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Dua-Alumni-UGM-yang-Berhasil-Jelajah-Antartika-Alami-Cuaca-Ekstrem-dan-Badai.jpg)