Cerita Dua Alumni UGM yang Berhasil Jelajah Antartika, Alami Cuaca Ekstrem dan Badai
Gerry datang ke Antartika sebagai bagian dari misi Russian Antarctica Expedition (RAE) yang berlangsung selama Februari—Juli 2024.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Ada 8 titik survei geologi yang mereka jelajahi, yaitu Akebono, Akarui, Tenmodai, Skallevikhalsen, Rundvageshtta, Langdove, West Ogul, Mt. Riiser Larsen.
“Kami berusaha menyingkap batuan metamorf, batuan tertua di bumi berusia 3,8 miliar tahun yang ada di Antartika. Kami mencoba merekonstruksi ulang dan mendetailkan data-data yang sudah ada sebelumnya tentang batuan-batuan metamorf yang ada di Antartika, mulai dari komposisi, usia, lalu rekonstruksi proses pembentukan batuan-batuan tersebut,” ujarnya.
Selama ekspedisi Nugroho hanya menjumpai dua jenis batuan di lokasi penelitian.
Batuan yang banyak ditemukan adalah batuan metamorf dan granitodis maupun perpaduan keduanya yaitu migmatit.
Batuan dengan struktur sarang lebah atau yang dikenal dengan honeycomb structure banyak ditemukan pada batuan.
Struktur ini terbentuk akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.
Nugroho memaparkan bahwa jenis batuan yang dia temukan ini mirip dengan batuan di Sri Lanka.
Menurut Nugroho, hal ini sebab dulunya Antartika dan Sri Lanka merupakan satu daratan yang sama.
4 orang Indonesia
Keikutsertaan Gerry dan Nugroho sebagai alumni UGM ini menjelajah Antartika, mencatatkan nama mereka dalam sejarah bahwa hanya ada empat orang Indonesia yang telah sampai ke Antartika.
Hal ini menjadi sebuah prestasi tersendiri sebab cita-cita UGM untuk mendunia.
Keduanya menyampaikan harapan agar hal ini tidak berhenti pada mereka saja.
“Semoga kawan-kawan UGM yang lain bisa melanjutkan ke Antartika,” harap Gerry.
Ia terus berharap agar pemerintah Indonesia dapat peduli dengan Antartika yang berada di samudera yang sama dengan Indonesia.
Ia menyebutkan bahwa semua pihak perlu sadar bahwa saat Antartika bermasalah, dunia, termasuk Indonesia akan secara tidak langsung terkena dampaknya.
Dengan demikian, Indonesia dapat menyiapkan lembaga riset Antartika untuk secara langsung hadir dan mengkaji Antartika.
Selaras dengan Gerry, Nugroho menyebut bahwa UGM dan Indonesia untuk bergegas menyikapi isu-isu strategis seperti geopolitik dan perubahan iklim yang erat kaitannya dengan eksistensi Antartika saat ini.
“Antartika seperti mesin waktu yang menyimpan sejarah bumi di masa lalu dan dapat menjadi informasi untuk menyikapi kemungkinan-kemungkinan di masa depan sehingga perlu bagi kita untuk menyiapkannya,” kata Nugroho. (Ard)
| Volume Penumpang Daop 6 Yogyakarta Tembus 3,3 Juta pada Triwulan I 2026 |
|
|---|
| Cek Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini Jumat 10 April 2026 dari Stasiun Tugu |
|
|---|
| Jamu PSM Makassar, Sejumlah Pemain PSIM Yogyakarta Masih Absen, Rahmatsho Kembali ke Skuad |
|
|---|
| Jadwal KRL Jogja Solo Hari Jumat 10 April 2026 dari Stasiun Tugu Jogja |
|
|---|
| Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Apresiasi Kenaikan PAD Jogja Rp1 Triliun, Dorong Rekonsolidasi Fiskal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Dua-Alumni-UGM-yang-Berhasil-Jelajah-Antartika-Alami-Cuaca-Ekstrem-dan-Badai.jpg)