Tips Kesehatan

Mager, Ancaman Bagi Gen Z dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Meski terlihat sepele, mager yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Iwan Al Khasni
Bing AI
ilustrasi mager malas gerak 

TRIBUNJOGJA.COM - Mager atau malas gerak adalah istilah populer yang merujuk pada kecenderungan untuk menghindari aktivitas fisik dan memilih aktivitas yang minim gerakan, seperti duduk atau berbaring sambil bermain ponsel, menonton televisi, atau bersantai. 

Kebiasaan ini sering kali muncul karena rasa lelah, kurang motivasi, atau kenyamanan berlebihan. 

Meski terlihat sepele, mager yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.

Generasi Z, atau Gen Z, dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era digital dengan teknologi canggih yang mempermudah hampir segala aspek kehidupan. 

Namun, kemudahan ini sering kali diiringi dengan kebiasaan malas gerak (mager).

Sebagai generasi yang sangat akrab dengan gadget, banyak aktivitas harian Gen Z, seperti belajar, bekerja, hingga bersosialisasi, dapat dilakukan tanpa banyak bergerak. 

Kebiasaan ini, ditambah dengan akses instan ke hiburan digital, seperti media sosial, game, dan streaming, membuat mager semakin menjadi pola hidup umum di kalangan Gen Z.

Baca juga: 9 Gejala Tipes dan Cara Mencegah Agar Tidak Terjangkit 

Dampak Mager bagi Kesehatan

Menurut laman RS Pusat Pertamina, mager memiliki dampak yang sangat buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 

Beberapa dampak negatif dari mager antara lain:

  • Obesitas: Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan kalori yang masuk ke tubuh tidak terbakar, sehingga menumpuk menjadi lemak dan menyebabkan obesitas.
  • Penyakit Jantung: Obesitas dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.
  • Diabetes Melitus: Resisten insulin yang sering terjadi akibat obesitas dapat memicu diabetes.
  • Tekanan Darah Tinggi: Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Kolesterol Tinggi: Obesitas sering diiringi dengan peningkatan kadar kolesterol jahat dalam darah.
  • Osteoporosis: Kurangnya beban pada tulang akibat kurang gerak dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
  • Depresi dan Kecemasan: Aktivitas fisik terbukti dapat meningkatkan produksi endorfin, hormon yang membuat kita merasa bahagia dan mengurangi stres.

Untuk mengatasi kebiasaan ini, penting untuk mulai dari langkah kecil, seperti menyisipkan gerakan ringan dalam rutinitas harian, menetapkan tujuan olahraga, atau mengatur lingkungan agar lebih mendukung aktivitas fisik.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved