Dokter Spesialis Anak Luruskan Miskonsepsi Penyakit Dengue: Pernah Terjangkit, Belum Tentu Kebal
Dengue, yang disebabkan oleh virus dari gigitan nyamuk Aedes aegypti, punya empat jenis virus berbeda.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sudah pernah terkena demam berdarah, berarti aman dari serangan berikutnya?
Sayangnya, itu hanya mitos.
Penyakit dengue justru bisa lebih berbahaya jika kita pernah terjangkit sebelumnya.
Dengue, yang disebabkan oleh virus dari gigitan nyamuk Aedes aegypti, punya empat jenis virus berbeda.
Jadi, meski sudah pernah terinfeksi sekali, tubuh kita belum tentu kebal terhadap jenis virus yang lain.
Hal itu disampaikan oleh Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia mengatakan hal tersebut dalam Pentaloka Nasional Adinkes 2024 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) pada tanggal 5-7 November 2024 di Yogyakarta.
Giat tersebut juga berkolaborasi dengan PT Takeda Innovative Medicines.
Baca juga: Kolaborasi Adinkes dan Takeda Lawan Penyakit Dengue, Utamakan Preventif Ketimbang Jadi Beban
Menurutnya, masih banyak pasien atau orang tua yang beranggapan bahwa apabila mereka atau anak mereka sudah pernah terkena dengue, maka akan kebal dan tidak bisa terjangkit lagi.
“Padahal faktanya tidak demikian, manusia dapat terjangkit dengue lebih dari satu kali, dan biasanya infeksi yang berikutnya justru berisiko lebih parah, bahkan bisa berujung kematian,” terangnya.
Dia menjelaskan, virus dengue terdiri dari empat serotipe, infeksi oleh satu serotipe, tidak membuat kebal terhadap serotipe yang lain.
“Sudah banyak kasus di sekitar kita yang anggota keluarganya direnggut oleh penyakit ini,” bebernya.
Ida menambahkan bahwa meski infeksi dengue sudah lama namun sampai saat ini masih belum ada pengobatan yang khusus untuk penyakit ini.
“Pengobatan yang diberikan oleh dokter saat ini lebih untuk mengatasi gejala dan mengurangi keparahan penyakit seperti kekurangan cairan, mual, lemas, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Untuk itu, upaya pencegahan yang inovatif seperti vaksinasi diperlukan agar dapat memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga dan menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi keparahan.
Akan tetapi, untuk mendapatkan perlindungan yang optimal, vaksinasi harus diberikan dengan dosis sesuai rekomendasi, atau bagi anak-anak, mengikuti pedoman terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
“Yang utama dalam pencegahan dengue adalah kesadaran masyarakat akan risiko dan pencegahan yang tepat waktu,” tutup Ida. (*)
Kemarau Basah Picu Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue di Bantul |
![]() |
---|
Epidemiolog Sebut Gejala dan Cara Mencegah Penularan Varian Nimbus Covid-19 |
![]() |
---|
Waspada DBD Meningkat di Gunungkidul, hingga Juni Tercatat 330 Kasus |
![]() |
---|
Ratusan Warga di Sleman Terjangkit DBD Sepanjang 2025 |
![]() |
---|
Peringati ASEAN Dengue Day 2025, Akademisi UGM Dorong Kolaborasi Multi-Sektor untuk Atasi Dengue |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.