Mubeng Kampus Jogja
Mengapa Orang Terobsesi dengan Gelar Akademik Tinggi tanpa Mau Susah Payah Studi?
Di Indonesia, ada sejumlah pejabat atau tokoh terkenal yang mendapatkan gelar tinggi, tapi mereka disinyalir tidak menempuh studi yang layak.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah persaingan yang semakin ketat di dunia kerja, gelar akademik tinggi sering kali dianggap sebagai kunci utama menuju kesuksesan.
Namun, di balik gemerlapnya predikat sarjana, magister, hingga doktor, muncul fenomena mengkhawatirkan, yakni orang-orang yang terobsesi untuk meraih gelar tersebut tanpa mau menempuh perjuangan dan kerja keras studi.
Ketergantungan pada status pendidikan tanpa dasar pemahaman yang kuat ini tidak hanya merusak nilai pendidikan itu sendiri, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendalam tentang motivasi dan integritas dalam mengejar karier.
Di Indonesia, ada sejumlah pejabat atau tokoh terkenal yang mendapatkan gelar tinggi, tapi mereka disinyalir tidak menempuh studi yang layak.
Adapula yang mendapat gelar akademik tinggi tapi dari kampus yang tidak jelas legalitasnya.
Mengapa orang terobsesi dengan gelar akademik tinggi tanpa mau susah payah studi?
Sosiolog Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Mukhijab, M.A, menjelaskan, orang terobsesi dengan gelar akademik tinggi menunjukkan bahwa gelar itu tidak berkaitan langsung dengan kualitas intelektualitas dari orang tersebut.
“Bagi politisi, artis dan sejenisnya, gelar akademik itu sekadar sebagai status sosial dan modal sosial saja,” kata Mukhijab kepada Tribunjogja.com , Jumat (18/10/2024).
Dia menyebut, gelar akademik yang berusaha diraih artis, politisi maupun pejabat itu hanya simbol agar mereka dipandang sebagai tokoh berpendidikan tinggi.
“Yang seolah-olah, mereka seperti punya kualifikasi intelektual dan keahlian tertentu. Padahal, faktanya, gelar akademik itu diperoleh tidak melalui jenjang pendidikan memadai atau proses pendidikannya hanya sebatas formalitas,” beber dia.
Gelar akademik seperti itu, kata dia, diperoleh untuk jadi simbol status sosial yang naif.
“Penyandang gelar akademik yang naif akan menjadikan gelarnya untuk modal sosial dalam mencapai jabatan dan kepentingan non-akademik launnya,” ungkapnya.
Dikatakan Mukhijab, adanya gelar akademik bisa menambah kepercayaan diri seseorang.
Mereka bisa menjabat apapun, selama mereka punya gelar akademik yang dinilai menterang.
| Jaringan Demokrasi Indonesia DIY dan UAD Berkolaborasi Pantau dan Awasi Pilkada 2024 |
|
|---|
| Mahasiswa FIPP UNY Dapat Penghargaan dari Polresta Sleman, Kontribusi sebagai JBI |
|
|---|
| FTSP UII Ajak Mahasiswa Bikin Prototipe Jembatan Rangka |
|
|---|
| UII dan APHK Gelar Diskusi Akademik Susun Hukum Perikatan |
|
|---|
| Mahasiswa Berprestasi UWM Yogyakarta Dapat Beasiswa dari Bank BPD DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-pendidikan_20180804_092437.jpg)