Kontroversi Chattra Candi Borobudur

Puluhan Komunitas Pelestari Cagar Budaya Tolak Pemasangan Chattra Borobudur 

Pemasangan chattra ini justru dinilai dapat merusak keaslian Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO, dan menjadi satu identitas bangsa.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Ahmad Syarifudin
Ketua Komunitas Kandang Kebo, Maria Tri Widayati menyampaikan sikap penolakan terhadap pemasangan chattra di stupa Induk Candi Borobudur. Sikap penolakan, yang disampaikan di basecamp Kandang Kebo, Sleman Yogyakarta ini mewakili puluhan komunitas pelestari cagar budaya di sejumlah daerah di Indonesia. 

"Kami mendesak Pemerintah untuk menghentikan pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur," kata Maria.

Pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat, akademisi, pecinta sejarah, dan budaya untuk mendukung pelestarian Candi Borobudur dengan cara yang bertanggung jawab dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maupun kaidah keilmuan.

Sebab, Candi Borobudur adalah warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai filosofis, sehingga apabila terjadi penambahan atau perubahan bentuk, maka dapat mengubah makna yang terkandung di dalamnya.

Dampak 

Maria menilai pemasangan chattra di Borobudur dapat beresiko buruk.

Borobudur adalah warisan budaya dunia, sementara syarat UNESCO untuk keaslian dari bangunan cakar budaya yang diangkat sebagai warisan dunia sangat ketat.

Perubahan bentuk bisa saja berpotensi pencabutan status. Jika ini terjadi maka tentu akan berdampak bagi masyarakat sekitar dan lingkungan kawasan Borobudur secara luas. \

Sebab itu, pihaknya bersama puluhan komunitas pelestari budaya menolak dan memunculkan simbol untuk mengajak masyarakat berdoa bagi Borobudur

"Jika akhirnya Pemerintah tetap memaksa memasang, maka kami tidak bisa menerima. Perjuangan kami akan terus mengedukasi masyarakat bagaimana sebenarnya pelestarian cagar budaya yang benar," ujar Maria. 

Anggota Komunitas Kandang Kebo, Ancah Yosi Cahyono mengatakan, bentuk stupa di setiap wilayah memiliki wujud dan karakter tersendiri sesuai dengan nilai filosofis daerah setempat.

Maka dari itu stupa- stupa di Thailand, Sri Langka, China hingga Jepang bahkan Jawa tidak seragam.

Hal ini diperkuat dengan hampir keseluruhan bangunan stupa besar, khususnya yang ada di Pulau Jawa tidak memiliki chattra. 

"Contoh sedikit saja misalnya barisan stupa Plaosan dan puluhan Yasti yang ditemukan di atasnya, di mana di situ tanpa lubang.Apakah itu akan dilubangi dan diberi payung?," katanya. 

Contoh lain stupa sojiwan juga memiliki yasti tanpa lubang. Kemudian calon maha stupa dalamsari yang diperkirakan memiliki tinggi mencapai 15 meter atau 2 kali lipat juga tidak mengindikasikan sambungan tambahan pada yasti atau stupa berlubang. 

"Tunjukkan pada kami yang bodoh ini, satu saja contoh stupa berlubang kuno yang ada di dunia, selain Borobudur," kata dia.( Tribunjogja.com )

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved