Kontroversi Chattra Candi Borobudur
Puluhan Komunitas Pelestari Cagar Budaya Tolak Pemasangan Chattra Borobudur
Pemasangan chattra ini justru dinilai dapat merusak keaslian Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO, dan menjadi satu identitas bangsa.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rencana pemerintah memasang chattra di puncak stupa induk Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah menuai polemik.
Komunitas Kandang Kebo, yang mendapatkan dukungan dari puluhan komunitas pelestari, pegiat, pecinta hingga aktivis cagar budaya di seluruh daerah di Indonesia bersuara menolak dan mendesak Pemerintah Indonesia membatalkan rencana yang akan direalisasikan tanggal 18 September itu.
Ketua Komunitas Kandang Kebo, Maria Tri Widayati mengungkapkan, pengambilan keputusan untuk memasang chattra di stupa induk Candi Borobudur tidak sesuai dengan kaidah ilmiah arkeologi.
Sebab, berdasarkan data pengamatan di lapangan, seluruh bangunan stupa di Jawa yang telah direstorasi tidak ada satupun yang memiliki chattra.
Pemasangan chattra ini justru dinilai dapat merusak keaslian Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO, dan menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.
Dengan kata lain pemasangan chattra merupakan bentuk vandalisme cagar budaya yang secara terang-terangan dilakukan pemerintah.
"Bagi kami, itu melukai upaya-upaya pelestarian yang dengan sukarela telah kami lakukan," kata Maria, di Basecamp Komunitas Kandang Kebo, saat menyatakan sikap, mewakili 37 komunitas pelestari, pegiat cagar budaya yang menolak pemasangan Chattra Borobudur, Selasa (10/9/2024).
Dijelaskan, chattra yang pernah dipasang kemudian diturunkan lagi oleh Van Erp pada pemugaran Borobudur tahun 1907-1911 bukan chattra asli dari stupa induk dengan alasan asisten Van Erp, Jean Jacques de Vink, telah menemukan tempat pemakaman di kawasan candi dan guci-guci yang ada di dalamnya berisi abu tiga orang yang dimakamkan di sana.
Informasi dari de Vink ini tercatat dalam Notulen Bataviaasch Genootshap yang tertulis pada awal tahun 1912, halaman 23-26 (Krom, 1927:12).
Van Erp juga dapat membuktikan bahwa keping-keping chattra yang ditemukan, tidak hanya bisa berasal dari stupa utama, melainkan juga dari guci- guci abu yang ditemukan de Vink.
Alasan lain dari penolakan pemasangan chattra di Borobudur, karena kajian Balai Konservasi Borobudur telah menemukan bahwa relief galeri IV nomor 13 memiliki bentuk serupa dengan stupa induk Candi Borobudur.
Gambar relief tersebut secara tegas tidak memiliki chattra.
Stupa-stupa yang ada di negara-negara lain, dinilai memiliki bentuk dan ciri khas budaya masing-masing.
Artinya stupa yang ada di luar Jawa tidak dapat dijadikan acuan untuk bentuk stupa di Jawa.
Rencana pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur yang tidak sesuai dengan undang-undang maupun kaidah keilmuan, dianggap menjadi contoh tidak baik bagi generasi mendatang dan tentu saja melukai semangat dan upaya pelestarian cagar budaya di Indonesia.
"Kami mendesak Pemerintah untuk menghentikan pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur," kata Maria.
Pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat, akademisi, pecinta sejarah, dan budaya untuk mendukung pelestarian Candi Borobudur dengan cara yang bertanggung jawab dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maupun kaidah keilmuan.
Sebab, Candi Borobudur adalah warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai filosofis, sehingga apabila terjadi penambahan atau perubahan bentuk, maka dapat mengubah makna yang terkandung di dalamnya.
Dampak
Maria menilai pemasangan chattra di Borobudur dapat beresiko buruk.
Borobudur adalah warisan budaya dunia, sementara syarat UNESCO untuk keaslian dari bangunan cakar budaya yang diangkat sebagai warisan dunia sangat ketat.
Perubahan bentuk bisa saja berpotensi pencabutan status. Jika ini terjadi maka tentu akan berdampak bagi masyarakat sekitar dan lingkungan kawasan Borobudur secara luas. \
Sebab itu, pihaknya bersama puluhan komunitas pelestari budaya menolak dan memunculkan simbol untuk mengajak masyarakat berdoa bagi Borobudur.
"Jika akhirnya Pemerintah tetap memaksa memasang, maka kami tidak bisa menerima. Perjuangan kami akan terus mengedukasi masyarakat bagaimana sebenarnya pelestarian cagar budaya yang benar," ujar Maria.
Anggota Komunitas Kandang Kebo, Ancah Yosi Cahyono mengatakan, bentuk stupa di setiap wilayah memiliki wujud dan karakter tersendiri sesuai dengan nilai filosofis daerah setempat.
Maka dari itu stupa- stupa di Thailand, Sri Langka, China hingga Jepang bahkan Jawa tidak seragam.
Hal ini diperkuat dengan hampir keseluruhan bangunan stupa besar, khususnya yang ada di Pulau Jawa tidak memiliki chattra.
"Contoh sedikit saja misalnya barisan stupa Plaosan dan puluhan Yasti yang ditemukan di atasnya, di mana di situ tanpa lubang.Apakah itu akan dilubangi dan diberi payung?," katanya.
Contoh lain stupa sojiwan juga memiliki yasti tanpa lubang. Kemudian calon maha stupa dalamsari yang diperkirakan memiliki tinggi mencapai 15 meter atau 2 kali lipat juga tidak mengindikasikan sambungan tambahan pada yasti atau stupa berlubang.
"Tunjukkan pada kami yang bodoh ini, satu saja contoh stupa berlubang kuno yang ada di dunia, selain Borobudur," kata dia.( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Puluhan-Komunitas-Pelestari-Cagar-BudayaTolak-Pemasangan-Chattra-Borobudur.jpg)