Komunitas Jadi Benteng Pelestarian Seni Kethoprak
Kethoprak, seni pertunjukan tradisional Jawa, kian mendapat perhatian berkat peran aktif komunitas seni.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kethoprak, seni pertunjukan tradisional Jawa, kian mendapat perhatian berkat peran aktif komunitas seni.
Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian ini agar tetap relevan di era modern.
Sugiman, selaku pelestari seni sekaligus ketua Komunitas Kethoprak Sleman (KKS), mengungkapkan tantangan yang dihadapi kethoprak saat ini.
"Kethoprak yang populer di era 1970-an mungkin tidak akan menarik lagi jika disajikan dengan cara yang sama saat ini. Perkembangan media seperti televisi dan media sosial menuntut kita untuk lebih kreatif dalam menyajikan pertunjukan," ujarnya dalam Talkshow radio Sonora FM bertajuk Peran Komunitas dalam Pelestarian Seni Tradisional Kethoprak, Sabtu (7/9/2024).
"Jadi tantangannya sekarang adalah menyajikan seni pertunjukan kethoprak tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melalui media yang relevan saat ini, teknologi terkini," lanjutnya.
Dengan segala nilai positif yang terkandung di dalamnya, kethoprak tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga menjadi media pendidikan yang efektif bagi generasi muda.
Melalui kethoprak, diharapkan generasi muda dapat meneladani sikap-sikap positif seperti unggah-ungguh, tata krama, dan semangat kebersamaan.
Ditambahkan Sugiman, inisiatif membentuk KKS muncul dari keprihatinan terhadap nasib para seniman kethoprak dan keluarga mereka yang terdampak gempa di DI Yogyakarta.
"Saat itu, kami para seniman merasa terpanggil untuk saling membantu. Kami mengadakan pertunjukan di berbagai daerah seperti Magelang dan Temanggung untuk mengumpulkan dana bagi rekan-rekan kami yang membutuhkan," kenang Sugiman.
Dari kegiatan kemanusiaan inilah, semangat kebersamaan semakin menguat di antara para seniman kethoprak.
Mereka menyadari pentingnya menjaga kelestarian seni tradisional ini dan memutuskan untuk membentuk komunitas yang lebih formal.
"KKS tidak hanya menjadi wadah bagi kami untuk berkarya, tetapi juga menjadi keluarga besar yang saling mendukung," tambah Sugiman.
Dalam kesempatan yang sama, Drs. KRT. Stefanus Prigel Siswanto atau yang akrab disapa Dalijo, seorang pelestari seni, menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga kelangsungan seni tradisional ini.
Dalijo berbagi pandangannya tentang perkembangan kethoprak dan upaya untuk menarik minat generasi muda.
"Jadi kuncinya untuk sebuah komunitas tidak mudah bubar yakni kita harus bisa mengikat, kethoprak harus bisa berkembang mengikuti zaman, tidak harus sesuai pakemnya. Misal ada anak muda yang tertarik bergabung, tentu tidak bisa dipaksakan untuk langsung bisa gendhing, tata bahasanya, dan sebagainya itu jangan. Untuk mengikat mereka agar cinta pada seni kethoprak, kenalkan dulu. Misal belum bisa nembang, ya kita ajari. Kalau salah, ya dibenerin," terangnya.
| Duduk Perkara Driver Ambulans Nyaris Demo RSUD Sleman, Parkir Gratis tapi Belum Tersosialisasi |
|
|---|
| KPK Ingatkan Kepala Perangkat Daerah dan DPRD Sleman Jaga Integritas |
|
|---|
| Persipura Jayapura vs PSS Sleman: Laga Krusial Perebutan Posisi Dua Besar Grup Timur |
|
|---|
| Pelatih Persipura Minta Pemain Tak Tegang Hadapi PSS Sleman: Nikmati Pertandingan |
|
|---|
| Warga Tiyasan Sleman Sukses Ubah Lahan Tidur Jadi 'Minimarket' Pangan Mandiri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Komunitas-Jadi-Benteng-Pelestarian-Seni-Kethoprak.jpg)