Prevalensi Diabetes Meningkat, Minuman Berpemanis Perlu Diterapkan Cukai
Ini sebagai bentuk untuk mengubah perilaku masyarakat dan mengedukasi bahwa konsumsi MBDK bukanlah bagian dari pola makan sehat dan bergizi.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
“Kita mengkampanyekan healthy eating seperti penerapan food traffic light pada makanan, advokasi pembatasan minum berpemanis,” katanya.
Perwakilan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), dr. Gisella Tellys, M.P.H. menyampaikan bahwa pemberlakuan cukai MBDK dapat mengurangi angka penderita diabetes.
Ia menerangkan bahwa cukai MBDK adalah instrumen kebijakan fiskal.
Menurutnya, dengan menaikan harga dari produk MBDK, tingkat konsumsi MBDK di masyarakat dapat menurun.
Hal senada juga disampaikan Tulus Abadi, S.H., Perwakilan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), minta pemerintah tidak perlu ambigu untuk menerapkan ini karena justru pemerintah juga akan mendapatkan pendapatan negara. “Penerapan cukai ini tidak akan mematikan industri,” paparnya.
Menurut Tulus, pemerintah sebaiknya belajar dari penerapan Cukai Hasil Tembakau (CHT), dimana hasil dari cukai bisa dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk program-program yang bertujuan untuk pengendalian konsumsi dan peningkatan kesehatan.
“Dana ini sering digunakan untuk mendanai kampanye kesehatan,” pungkasnya. (*)
| Satpol PP Kota Yogyakarta dan Bea Cukai Sita 1000 Batang Rokok Ilegal |
|
|---|
| UMY Ajak Personel Polda DIY Lebih Peduli Kesehatan Lewat Skrining Diabetes |
|
|---|
| Kasus Diabetes di Wilayah Sleman Mulai Bayangi Usia Muda |
|
|---|
| Buruh Rokok di Yogya Tolak Rencana Pemangkasan Dana Bagi Hasil Cukai |
|
|---|
| Tips Berpuasa Aman Bagi Penderita Diabetes |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-Minuman-Berpemanis-Dalam-Kemasan-MBDK.jpg)