Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Kekayaan Budaya Jadi Kekhasan Fesyen di DIY

Gelaran Jogja Fashion Week 2024 memiliki peran penting dalam memperkuat Jogja sebagai kota fesyen dunia.

Tayang:
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Christi Mahatma
Suasana Fashion Talk, rangkaian Jogja Fashion Week 2024 di Hotel Grand Rohan Yogyakarta, Kamis (22/08/2024). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Nilai budaya menjadi salah satu kekhasan fesyen DIY. Sehingga perlu inovasi agar fesyen bisa menjadi jembatan tradisional dan modernisasi.

Ketua harian Dekranasda DIY, GKBRay Adipati Paku Alam X mengatakan fesyen merupakan penghargaan terhadap martabat manusia.

Seperti pepatah Jawa, ajining raga ana ing busana, busana mencerminkan jati diri manusia.

“(Busana) sebuah mahakarya yang melambangkan filosofi hidup, nilai luhur, dan kekuatan cipta, rasa, dan karya. Hari ini kita diingatkan terus berkarya dengan penuh kreativitas untuk membawa Jogja ke panggung dunia, sebagai kota pusat fashion dunia, dengan karakter khasnya yaitu nilai budaya,” katanya dalam Fashion Talk, rangkaian Jogja Fashion Week 2024, Kamis (22/08/2024).

Sebagai Penasihat Jogja Fashion Week 2024, gelaran Jogja Fashion Week 2024 memiliki peran penting dalam memperkuat Jogja sebagai kota fesyen dunia.

Tidak hanya sebagai tempat untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga untuk membangun kolaborasi ekonomi inklusif.

“Kita bersama bisa menyatukan visi misi untuk menciptakan industri fesyen bukan hanya berdaya saing global, tapi juga menjunjung tinggi kearifan lokal,” lanjutnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Syam Arjayanti mengungkapkan Disperindag DIY mulai mengarahkan fesyen di DIY mengangkat budaya lokal. 

“Kami ini menaikkan kelas fesyen (di DIY), bagaimana desainnya, motif budaya kita banyak sekali. Nah ini akan digodok, agar fesyen (DIY) beda dengan Paris. Budayanya mulai kita angkat,” ungkapnya.

Menurut dia, kekhasan dapat menjadi pembeda dan akan lebih menarik pasar.

Pada kesempatan yang sama, Fashion Designer, Musa Widiyatmojo menerangkan jika fesyen dijadikan industri, maka yang menjadi fokus utama adalah pelanggan.

Sehingga dalam menghasilkan produk fesyen tidak hanya sekadar produksi.

“Nah kebanyakan UMKM kita itu bikin dulu, setelah jadi bingung, pasarnya siapa, mau dijual kemana. Yang pertama dilakukan adalah membuat konsepnya dulu. Konsepnya mau dibuat seperti apa, digunakan oleh siapa, mau dipakai kemana. Teliti juga pelanggannya, penghasilan berapa, mau keluarin uang buat beli produk berapa. Barang yang laris di Jogja, belum tentu laris juga di Jakarta. Sehingga mengerti konsumen itu penting,” terangnya.

Musa menambahkan dunia fesyen selalu berubah sehingga harus ada inovasi-inovasi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved