Cerita Horor Malam Jumat

CERITA HOROR Malam Jumat: Teriakan dari Kampus yang Kosong

Cerita horor pendek di malam Jumat, membuat bulu kuduk merinding. Apakah Anda berani membacanya?

ist
Cerita Horor Pendek 

MALAM HARI memang bukan waktu yang ideal untuk menyantap makanan berat. Apalagi, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB.

Namun, perut Nada keroncongan. Perempuan berusia 30 tahun itu tak sanggup menahan lapar. Apalagi, ternyata, dia belum makan malam.

Dia pun mengajak kedua temannya mencari warung atau rumah makan yang masih buka di jam tersebut.

Tempat tinggal Nada tak jauh dari pusat kota dan kampus. Rumah makan melimpah di dekatnya, mulai dari bintang lima hingga penjaja kaki lima. Ia sebenarnya bisa tinggal memilih mau makan apa yang bisa membuat perutnya nyaman.

Namun, pukul 22:00 WIB itu adalah waktu dimana restoran tutup dan pedagang kaki lima mulai menutup tenda, pertanda jualannya sudah habis. Mau tidak mau, pilihan makanannya jadi lebih terbatas ketimbang di siang hari.

“Cari-cari makanan saja dulu. Jam segini sudah banyak yang tutup, tapi pasti ada yang buka. Kalau tidak ada ya ke Warmindo saja,” ujar Nada kepada Valencia dan Hana.

Mereka seumuran. Bahasa kekiniannya, mereka satu circle. Rumahnya pun berdekatan, sehingga mereka kerap bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

Hana pun mengangguk, tidak masalah harus jalan, meski ia tidak ada niatan untuk makan malam. Sama dengan Valencia yang siap pergi kemana saja bersama kawan-kawannya itu.

Perjalanan mereka mencari makan malam pun terhenti di sebuah warung Yammie di dekat kampus kenamaan. Warung Yammie itu masih buka dan menunya masih cukup komplit.

“Makan Yammie, biar gak terlalu kenyang,” kata Nada setelah melihat tenda warung tersebut yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumahnya.

Waktu untuk menyantap satu mangkok Yammie pun tak lama, hanya sekitar 20 menit. Usai makan, mereka bergegas membayar dan pulang, khawatir jika pedagang ingin segera meringkas tenda di waktu yang telah menunjukkan pukul 22:50 WIB itu.

Setelah makan malam, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Setidaknya, tetap ada kalori yang dikeluarkan seusai makan.

Malam yang semakin sepi membuat bulu kuduk mereka merinding juga. Apalagi, di trotoar itu, lampu penerangan jalan tidak berfungsi maksimal.

Belum lagi, ada beberapa bagian trotoar yang bolong, membuat mereka harus was-was agar tidak kejeblos masuk ke gorong-gorong.

“Seram juga ya kalau malam,” kata Valencia yang sejak tadi diam memantau keadaan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved